gambar

gambar
KETUA KELAS

Minggu, 18 April 2010

asuhan keperawatan pada pasien asma

I PUTU ANDRIA WARDANA
04 . 07. 1618
B\KP\VI

ASMA
DEFINISI
asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat sementara.
PENYEBAB
pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal tidak akan mempengaruhi saluran pernafasan. penyempitan ini dapat dipicu oleh berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga.

pada suatu serangan asma, otot polos dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan pelepasan lendir ke dalam saluran udara. hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.

sel-sel tertentu di dalam saluran udara (terutama sel mast) diduga bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini. sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya:
- kontraksi otot polos
- peningkatan pembentukan lendir
- perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki.
sel mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang.

tetapi asma juga bisa terjadi pada beberapa orang tanpa alergi tertentu. reaksi yang sama terjadi jika orang tersebut melakukan olah raga atau berada dalam cuaca dingin.
stres dan kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.

sel lainnya (eosnofil) yang ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien), yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.
GEJALA
frekuensi dan beratnya serangan asma bervariasi. beberapa penderita lebih sering terbebas dari gejala dan hanya mengalami serangan serangan sesak nafas yang singkat dan ringan, yang terjadi sewaktu-waktu. penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan. menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala.

suatu serangan asma dapat terjadi secara tiba-tiba ditandai dengan nafas yang berbunyi (wheezing, mengi, bengek), batuk dan sesak nafas. bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan nafasnya. di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap semakin memburuk.
pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh seorang penderita asma adalah sesak nafas, batuk atau rasa sesak di dada. serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa jam, bahkan selama beberapa hari.

gejala awal pada anak-anak bisa berupa rasa gatal di dada atau di leher. batuk kering di malam hari atau ketika melakukan olah raga juga bisa merupakan satu-satunya gejala.

selama serangan asama, sesak nafas bisa menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.

pada serangan yang sangat berat, penderita menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat.
kebingungan, letargi (keadaan kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap, tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan.
meskipin telah mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna,

kadang beberapa alveoli (kantong udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga pleura atau menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada. hal ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.
DIAGNOSA
diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas.

untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan spirometri berulang. spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan saluran udara dan untuk memantau pengobatan.

menentukan faktor pemicu asma seringkali tidak mudah. tes kulit alergi bisa membantu menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala asma.
jika diagnosisnya masih meragukan atau jika dirasa sangat penting untuk mengetahui faktor pemicu terjadinya asma, maka bisa dilakukan bronchial challenge test.
PENGOBATAN
obat-obatan bisa membuat penderita asma menjalani kehidupan normal.
pengobatan segera untuk mengendalikan serangan asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan.

agonis reseptor beta-adrenergik merupakan obat terbaik untuk mengurangi serangan asma yang terjadi secara tiba-tiba dan untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu oleh olahraga.
bronkodilator ini merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.

bronkodilator yang yang bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik (misalnya adrenalin), menyebabkan efek samping berupa denyut jantung yang cepat, gelisah, sakit kepala dan tremor (gemetar) otot.
bronkodilator yang hanya bekerja pada reseptor beta2-adrenergik (yang terutama ditemukan di dalam sel-sel di paru-paru), hanya memiliki sedikit efek samping terhadap organ lainnya. bronkodilator ini (misalnya albuterol), menyebabkan lebih sedikit efek samping dibandingkan dengan bronkodilator yang bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik.

sebagian besar bronkodilator bekerja dalam beberapa menit, tetapi efeknya hanya berlangsung selama 4-6 jam.
bronkodilator yang lebih baru memiliki efek yang lebih panjang, tetapi karena mula kerjanya lebih lambat, maka obat ini lebih banyak digunakan untuk mencegah serangan.

bronkodilator tersedia dalam bentuk tablet, suntikan atau inhaler (obat yang dihirup) dan sangat efektif.
penghirupan bronkodilator akan mengendapkan obat langsung di dalam saluran udara, sehingga mula kerjanya cepat, tetapi tidak dapat menjangkau saluran udara yang mengalami penyumbatan berat.
bronkodilator per-oral (ditelan) dan suntikan dapat menjangkau daerah tersebut, tetapi memiliki efek samping dan mula kerjanya cenderung lebih lambat.

jenis bronkodilator lainnya adalah teofilin.
teofilin biasanya diberikan per-oral (ditelan); tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet dan sirup short-acting sampai kapsul dan tablet long-acting.
pada serangan asma yang berat, bisa diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah).

jumlah teofilin di dalam darah bisa diukur di laboratorium dan harus dipantau secara ketat, karena jumlah yang terlalu sedikit tidak akan memberikan efek, sedangkan jumlah yang terlalu banyak bisa menyebabkan irama jantung abnormal atau kejang.
pada saat pertama kali mengkonsumsi teofilin, penderita bisa merasakan sedikit mual atau gelisah. kedua efek samping tersebut, biasanya hilang saat tubuh dapat menyesuaikan diri dengan obat.
pada dosis yang lebih besar, penderita bisa merasakan denyut jantung yang cepat atau palpitasi (jantung berdebar). juga bisa terjadi insomnia (sulit tidur), agitasi (kecemasan, ketakuatan), muntah, dan kejang.

kortikosteroid menghalangi respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. jika digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap kortikosteroid akan menyebabkan berkurangnya kecenderungan terjadinya serangan asma dengan mengurangi kepekaan saluran udara terhadap sejumlah rangsangan.
tetapi penggunaan tablet atau suntikan kortikosteroid jangka panjang bisa menyebabkan:
- gangguan proses penyembuhan luka
- terhambatnya pertumbuhan anak-anak
- hilangnya kalsium dari tulang
- perdarahan lambung
- katarak prematur
- peningkatan kadar gula darah
- penambahan berat badan
- kelaparan
- kelainan mental.

tablet atau suntikan kortikosteroid bisa digunakan selama 1-2 minggu untuk mengurangi serangan asma yang berat.
untuk penggunaan jangka panjang biasanya diberikan inhaler kortikosteroid karena dengan inhaler, obat yang sampai di paru-paru 50 kali lebih banyak dibandingkan obat yang sampai ke bagian tubuh lainnya.
kortikosteroid per-oral (ditelan) diberikan untuk jangka panjang hanya jika pengobatan lainnya tidak dapat mengendalikan gejala asma.

kromolin dan nedokromil diduga menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. obat ini digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk asma karena olah raga. obat ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun penderita bebas gejala.

obat antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium bromida) bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin. lebih jauh lagi, obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada penderita yang sebelumnya telah mengkonsumsi agonis reseptor beta2-adrenergik.

pengubah leukotrien (contohnya montelukas, zafirlukas dan zileuton) merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan asma. obat ini mencegah aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh tubuh yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma).

pengobatan untuk serangan asma

suatu serangan asma harus mendapatkan pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernafasan. obat yang digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda.

agonis reseptor beta-adrenergik digunakan dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk sesak nafas yang sangat berat).
nebulizer mengarahkan udara atau oksigen dibawah tekanan melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup oleh penderita.

pengobatan asma juga bisa dilakukan dengan memberikan suntikan epinefrin atau terbutalin di bawah kulit dan aminofilin (sejenis teofilin) melalui infus intravena.

penderita yang mengalami serangan hebat dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan suntikan kortikosteroid, biasanya secara intravena (melalui pembuluh darah).

pada serangan asma yang berat biasanya kadar oksigen darahnya rendah, sehingga diberikan tambahan oksigen.
jika terjadi dehidrasi, mungkin perlu diberikan cairan intravena.
jika diduga terjadi infeksi, diberikan antibiotik.

selama suatu serangan asma yang berat, dilakukan:
- pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah
- pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak flow meter)
- pemeriksaan rontgen dada.

pengobatan asma jangka panjang

salah satu pengobatan asma yang paling efektif adalah inhaler yang mengandung agonis reseptor beta-adrenergik. penggunaan inhaler yang berlebihan bisa menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung.
jika pemakaian inhaler bronkodilator sebanyak 2-4 kali/hari selama 1 bulan tidak mampu mengurangi gejala, bisa ditambahkan inhaler kortikosteroid, kromolin atau pengubah leukotrien.
jika gejalanya menetap, terutama pada malam hari, juga bisa ditambahkan teofilin per-oral.
PENCEGAHAN
serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui dan bisa dihindari.
serangan yang dipicu oleh olah raga bisa dihindari dengan meminum obat sebelum melakukan olah raga











TUTORIAL
Tuan K datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas, tuan K mempunyai riwayat penyakit asma. Setiap pagi dan malam ia selalu merasa sesak nafas. Tuan K mengatakan suara nafas seperti peluit ketika merasa sesak nafas. Dari pemeriksaan perawat mendapatkan suara nafas wheezing, wajah pasien terlihat pucat, retraksi otot dada.

A. Penyakit Asma
1. Pengertian Asma
 Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan nafas, dan gejala pernafasan (mengi dan sesak). Obstruksi jalan nafas umumnya bersifat reversible, namun dapat menjadi kurang reversible bahkan relative non reversible tergantung berat dan lamanya penyakit. (Kapita Selekta 1, hal 476 – 477).

 Asma berasal dari kata Yunani yang artinya terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek. Meskipun dahulu istilah ini digunaan untuk menyatakan gambaran klinis nafas pendek tanpa memandang sebabnya, sekarang istilah ini hanya ditujukan untuk keadaan-keadaan yang menunjukkan respon abnormal saluran pernafasan terhadap berbagai ranganagn yang menyebabkan penyempitan jalan nafas yang meluas. (Patofisiologi 2, hal 189).

 Asma adalah satu keadaan klinis yang ditandai dengan episode berulang penyempitan bronkus yang reversible, biasanya diantara episode terhadap periode pernafasan yang lebih normal. (Patofisiologi 1, hal 189).


2. Penyebab Asma
Penyebab yang umum ialah hipersensitivitas bronkiolus terhadap benda-benda asing di udara. Pada pasien yang lebih muda, di bawah usia 30 tahun, sekitar 70% asma disebabkan oleh hipersensitivitas alergik, terutama hipersensitivitas terhadap serbuk sari tanaman. Pada pasien yang lebih tua, penyebabnya hamper selalu pipersensitivitas terhadap bahan iritan non alergik di udara, seperti iritan pada kabut/ debu (smog). (Guyton & Hall Fisiologi Kedokteran, hal 675).

3. Tanda dan Gejala
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversible secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain :
a. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop
b. Batuk produktif, sering pada malam hari
c. Nafas atau dada seperti tertekan.
Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam hari. (Kapita Selekta, hal. 477).

Jalan penyakit asma/ Patiofisiologi asma
Setelah pasien terpajan allergen penyebab atau factor pencetus, segera akan timbul dispma. Pasien merasa seperti tercekik dan harus berdiri atau duduk dan berusaha penuh mengerahkan tenaga untuk bernafas. Kesulitan utama yang dirasakan pasien adalah pada saat ekspirasi. Percabangan trakeobronkial melebar dan memanjang selama inspirasi, tetapi sulit untuk memaksakan udara keluar dari bronkolus yang semoit, mengalami edema dan terisi mucus, yang dalam keadaan akan berkontraksi sampai tingkatan tertentu pada ekspirasi. Udara terperangkap pada bagian distal tempat penyumbatan, sehingga terjadi hiperinflasi progresif paru. Akan timbul mengi ekspirasi memanjang yang merupakan cirri khas asma sewaktu pasien berusaha memaksanakan udara keluar. Serangan asma seperti ini dapat berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam, diikuti dengan batuk produktif dengan spuntum berwarna keputih-putihan. Selang waktu antara dua serangan biasanya bebas dari kesulitan bernafas. Serangan asma yang berlangsung terus menerus selama berhari-hari dan tidak dapat ditanggulangi dengan cara pengobatan biasa. Dikenal dengan nama status asmatikus. Dalam kasus ini fungsi vertical dapat sangat memburuk sehingga mengakibatkan sianosis dan kematian. (Patofisiologi 2, hal 785).





























4. Penatalaksanaan
Tujuan terapi asma :
a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma
b. Mencegah kekambuhan
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya
d. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan execuse
e. Menghindari efek samping obat asma
f. Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel

Yang termasuk obat anti asma adalah :
a. Bronkodilator
1) Agenis P2
Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi, salbutamol, dan feneterol memiliki lama kerja 4-6 jam, sedangkan agonis β2 log-acting bekerja lebih dari 2 jam, seperti salmeterol, formoterol, bombuterol, dan lain-lain. Bentuk aerosol dan instalasi memberikan efek bronkodialatasi yang sama dengan dosisi yang jauh lebih kecil yaitu spersepuluh dosis oral dan pemberiannya local.
2) Metixantin
Teoflilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilaturnya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam sarum. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teoflin serum dalam pengobatan jangka panjang.
3) Antikolgenik
Golongan ini menurunkan tenus vogus intrinsic dari saluran nafas.
b. Antiinflamasi
Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan nafas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis.
1) Kontikosteroid
2) Natrium kromdin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamasi non steroid.

Table Pengobatan asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit
Derajat asma Obat pengontrol Obat pelega
Asma peristen Tidak perlu - Bronkodlator aksi singkat, yaitu instalasi agonis β2 bila perlu
- Intensitas pengobatan tergantung berat ekgoserbasi
- Inhalasi agonis β2 atau kronoln dipakai sebelum aktivitas atau pajanan allergen
Asma persisten ringan - Inhalasi kontitosteroid 200-500 μg/komdin/nedokramil atau teofilin lepas lambat
- Bila perlu ditingkatkan sampai 800 μg atau ditambahkan bronkadilator aksi lama instalasi atau oral atau teofilin lepas lambat - Inshalasi agorius β2 aksi singkat bila perlu dantidak melebihi 3-4 kali sehari

Asma persisten sedang - Inshalasi kartikosteroid 800-2000 μg
- Bronkodilator aksi lama terutama untuk mengontrol asma malam. Dapat diberikan agonis β2 aksi lama instalasi atau oral teofilin lepas lambat - Inhagarus agorus β2 aksi singkat bila perlu dan tidak melebih 3-4 kali sehari
Asma peristen berat - Inhalasi kardikolesteroid 800-2000 μg atau lebih
- Brinkadilatir aksi lama, berupa agonis β2 inhalasi atau oral atau teofilin lepas lambat
- Kortikosteroid oral jangka panjang -

Tabel terapi serangan asma akut
Beratnya serangan Terapi Lokasi
Ringan
- Aktivitas hamper normal
- Bicara dengan kalimat
- Penuh denyut nadi < 100/ menit (APE> 60%) Terbaik :
- Agonis P2 isap (MDI) 2 isap boleh diulangi 1 jam kemudian atau tiap 20 menit dalam 1 jam
Alternative :
- Agonis β-2 oral dan atau 3x, -1 tablet (2 mg) oral.
- Teofilin 75-150 mg
- Lama terapi menurut kebutuhan - Di rumah
Sedang :
- Hanya mampu berjalan jarak dekat
- Bicara dalam kalimat terputus-putus
- Denyut nadi 100-120/ menit
- (APB 40-60 %) Terbai :
- Agonis β-2 secara nebulisasi 2,5-5 mg, dapat diulangi sampai 3 kali dalam 1 jam pertama dan dapat dilanjutkan setiap 1-4 jam kemudian.
Alternative :
- Agonis β-2 I m/ adrenalin S.K.
- Teufilin iv 5 mg/kg BB/ir pelan-pelan
- Steroid iv/konsisten 100-200 mg, im deksametasan 5 mg iv
- Oksigen 4 liter/ menit - Puskesmas
- Klinik rawat jalan
- UGD
- Praktek dokter umum
- Dirawat di RS bila tida respon dalam 2-4 jam
Berat :
- Sesak pada istirahat
- Bicara dalam kata-kata terputus
- Denyut nadi > 120 l/mnt
- (APE <40% atau wol/mnt. Terbaik : - Agonis β-2 secara nebulasi dapat diulangi sampai dengan 3 kali dalam 1 jam pertama selanjutnya dapat diulang setiap 1-4 jam kemudian - Teofilin iv dan infus - Steroid iv dapat diulang / 8-12 jam - Agonist beta-2 sk/iv/6 jam - Oksigen 4 liter/ menit - Pertimbangkan nebulisasi pratopium bromide 20 tetes Alternative : - Lanjutkan terapi sebelumnya - Pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanik - Pertimbangkan anestesi umum untuk terapi pernafasan intensif. Bila perlu dilakukan kurasan bronco diveolar (BAL) - UGD - Rawat bila tidak respon dalam 2 jam maksimal 3 jam - Pertimbangkan rawat ICU bila cenderung prograsif - ICU Terapi awal, yaitu : 1) Oksigen 4-6 liter/ menit 2) Agonis β-2 (salburanol 5 mg atau feneterol 2,5 mg atau ferbutalin 18 mg). inhalasi nebulisasi dan pemberiannya dapat diulang setia 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis β-2 dapat secara subkutan atau iv dengan dosisi salbutanol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalamn larutan dekstrosa 5% dan diberikan perlahan 3) Aminofilin belus iv 5-6 mg/ kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis. 4) Kartikosteroid hidrokortison 100 – 200 mg iv jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. Respon terhadap terapi awal baik, jika didapatkan keadaan berikut : 1) Respon menetap selama 60 menit setelah pengobatan 2) Pemeriksaan fisik normal 3) Arus puncak ekspirasi (APE) > 70%
Jika respon tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka pasien sebaiknya dirawat di rumah sakit.
Terapi asma kronik adalah sebagai berikut :
1) Asma ringan : agonis β-2 inhalasi bila perlu atau agnois β-2 oral sebelum becise atau terpapar allergen
2) Asma sedang : inflamasi setiap hari dan agonies β-2 inhalasi bila perlu
3) Asma berat : steroid inhalasi setiap hari, teofilin slow release atau agonis β-2 long acting, steroid oral selang sehari atau dosis tunggal harian dan agonis β-2 inhalasi sesuai kebutuhan.

Asma dapat dibagi menjadi 3 kategori :
 Asma ekstrinsik atau alergik : disebabkan oleh allergen yang diketahui
 Asma intrinsic atau idiooatik : lebih sering timbul sesudah 40 tahun
 Asma campuran : terdiri dari komponen-komponen asma ekstrinsik dan intrinsic.

B. Pemeriksaan Dada
Pada pemeriksaan dada, yang perlu diketahui adalah garis atau batas di dada seperti gambar di bawah ini. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, atau auskultasi.

Keterangan :
a. Garis midsternal
Garis vertical melalui pertengahan sternum
b. Garis Sternal
Garis sejajar dengan garis misdsternal melalui tepo sternum kanan dan kiri
c. Garis parasternal
Garis sejajar dengan garis midsternal melalui titik 1 cm lateral dari garis sternal kanan dan kiri
d. Garis midklavikularis
Garis sejajar dengan garis midsternal melalui pertengahan klavikula kanan dan kiri
e. Garis aksilaris anterior
Garis sejajar dengan garis midsternal melalui lipatan aksilaris anterior
f. Garis midaksilaris (aksilaris medial)
Garis sejajar garis midsternal pertengahan garis aksilaris anterior dan posturior
g. Garis aksilaris posterior
Garis sejajar dengan garis midsternal melalui lipatan aksilaris posterior
h. Garis midspinalis
Garis vertical di tengah punggung melalui prosesus spinosus tulang belakang
i. Garis midskapularis
Garis sejajar dengan garis midspinalis melalui puncak scapula.

Dalam pemeriksaan dada, yang perlu diperhatikan adalah bentuk dan besar dada, kesimetrisan, gerakan dada, adanya deformitas, penonjolan, pembangkakan, atau kelainan yang lain. Dada memiliki beberapa bentuk, diantarannya :
1. Fumel chest, sternum bagian bawah serta iga masuk ke dalam, terutama saat inspirasi, yang dapat disebabkan oleh hipertropi adenoid yang berat.
2. pigeon chest, atau sering disebut dada burung, baian sternum menonjol ke arah luar, dimana biasanya disertai dengan depresi ventrikel pada daerah kostrokadral. Kelainan ini dapat dilihat pada kasus osteporosis
3. Barrel chest, dada berbentuk bulat seperti tong, sternum berddorong ke arah depan dengan iga horizontal, yang dapat ditemukan pada penyakit obstruksi paru seperti asma, emfisema dan lain-lain.

Pemeriksaan Paru
Pemeriksaan paru terdiri atas beberapa langkah, yaitu inspeksi, palpasi, perkusi dan asukultasi.
1. Inspeksi, untuk melihat apakah terdapat kelainan patofisiologis ataukah hanya fisiologis dengan melihat pengembangan paru saat bernafas.
2. Palpasi, untuk menilai :
a. Simetri atau asimetri dada yang dapat diperoleh dari adanya benjolan yang abnormal, pembesaran kelenjar limfe pada aksila, dan lain-lain.
b. Adanya fremintus suara, merupakan getaran pada daerah toraks saat bicara atau menangis, yang sama dalam kedua sisi toraks. Penilaiannya apabila meninggi suaranya maka terjadi konsolidasi seperti pada pneumonia dan apabila menurun terjadi obstruksi, atelekrasis, pleuritis, efusi pleura, tumor pada paru. Caranya dengan meletakan telapak tangan kanan dan kiri di daerah dada atau punggung.
c. Adanya krepitasi subkutis, yaitu udara daerah bawah jaringan kulit. Adanya krepitasi ini dapat terjadi spontan, setelah trauma atau tindakan trakeostomi dan lain-lain.
3. Perkusi, dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung dengan mengetukkan ujung jari atau jari telunjuk langsung ke dinding dada, sedangkan cara tidak langsung dengan cara meletakkan satu jari pada dinding dada dan mengetuknya dengan jari tangan yang lainnya dimulai dari atas ke bawah kanan ke kiri, lalu dibandingkan hasilnya. Hasil dari pemeriksaan ini adalah :

a. Sonar, merupakan suara paru normal
b. Redup atau pekak suara perkusi yang berkurang normalnya pada daerah scapula, diafragma, hati, dan jantung. Suara pekak atau redup ini biasanya merupakan konsolidasi jaringan paru seperti pada atelektosis, daerah iga keenam pada garis aksilaris media kanan yang menunjukkan adanya gerakan pernafasan, yaitu turun pada saat inspirasi dan naik pada ekspirasi, dan pada anak khususnya berusia di bawah 2 tahun akan mengalami kesulitan.
c. Hipersonar atau timpani yang terjadi apabila udara dalam paru bertambah atau pleura bertambah seperti pada emfisema atau pneumotoraks.
4. Auskultasi
Untuk menilai suatu nafas dasar dan suara nafas tambahan yang dilakukan di seluruh dada dan punggung. Bandingkan suara nafas dari kanan atau ke kiri, kemudian dari bagian atas ke bawah, dan tekan daerah stetoskop dengan kuat. Khusus pada bayi, suara nafasnya akan lebih keras karena dinding dada masih tipis.

Suara nafas dasar.
Suara nafas dasar merupakan suara nafas biasa, yang meliputi nafas vaskuler, bronchial, amforik, cog wheel breath sound, dan metamorphosing breath sound.
1. Suara nafas vesicular
Merupakan suara nafas normal. Udara masuk dan keluar melalui jalan nafas dan suara inspirasi lebih keras dan panjang dari pada suara ekspirasi. Apabila suara vaskuler ini melemah, maka terjadi penyempitan dada daerah bronkus, atau keadaan ventilasi yang kurang seperti pada pneumonia, atelektaksis edema paru, efusi pleura, emfisema, pneumotoraks, dan vesikuler mengeras apabila konsolidasi bertambah seperti pneumonia, adanya tumor, dan lain-lain. Khusus pada asma, suara nafas pada saat ekspirasi lebih panjang disbanding inspirasi.
2. Suara nafas bronchial
Merupakan suara nafas yang inspirasinya keras, disusul dengan ekspirasinya juga keras. Suara ini normal terdengar pada daerah bronkus besar kanan dan kiri, di daerah parasternal atas dada depan, dan daerah interskapular di belakang, akan tetapi, apabila terjadi pada daerah lain, kemungkinan terjadi adanya konsolidasi paru.
3. Suara nafas amforik merupakan suara yang menyerupai bunyi tiupan di atas mulut botol kosong.
4. Cog wheel breath sound
Merupakan suara nafas yang terdengar secara terputus-putus, tidak terus menerus pada saat inspirasi maupun saat ekspirasi. Hal ini dapat menunjukkan adanya kelainan pada bronkus kecil.
5. Metamorphosing breath sound
Merupakan suara nafas dengan awalan yang halus kemudian mengeras namun dapat pula dimulai dari suara veskular kemudian menjadi bronkial

Suara nafas tambahan
Suara nafas tambahan merupakan suara nafas yang dapat didengar melalui bantuan auskultasi yang meliputi ronki basah/ ronki kering, wheezing, suara krepitasi, bunyi gesekan pleura (pleural friction rub).
1. Ronki basah (rules)
Merupakan suara nafas seperti vibrasi terputus-putus tidak menerus yang terjadi akibat getaran karena cairan dalam jalan nafas dilalui oleh udara. Ronki kering (rhonchi) merupakan suara yang terus menerus yang terjadi karena udara melalui jalan nafas yang menyempit akibat proses penyempitan pada saat ekspirasi daripada inspirasi.
2. Wheezing
Merupakan suara nafas yang termasuk daam ronki kering, akan tetapi terdengar secara musical atau sonor apabila dibandingkan dengan ronki kering, dan lebih terdengar pada saat ekspirasi

3. Krepitasi
Merupakan suara nafas yang terdengar akibat membukanya alerdi suara krepitasi terdengar normal pada daerah belakang bawah dan samping pada saat inspirasi yang dalam, sedangkan patologis terdapat pada pneumonia lobaris.
4. Gesekan pleura (pleural friction rub)
Merupakan suara akibat gesekan pleura yang terdengar kasar seolah-olah dekat dengan telinga pemeriksa, terjadi pada saat inspirasi maupun ekspirasi, namun terdengar lebih jelas pada saat akhir inspirasi.

Tabel Bunyi Nafas
Deskripsi Karakteristik Lokasi Asal
- Vaskuler
Bunyi vaskuler halus, lembut dan bernada rendah. Fase inspirasi 3 kali lebih lama dari ekspirasi
Inspirasi > ekspirasi Normal : seluruh lapangan paru Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati nafas yang lebih kecil
- Bronkovesikuler
Bunyi bronkovesikuler bernada sedang dan bunyi tiupan dengan itensitas sedang Inspirasi = ekspirasi Normal : ruang interastal 1 atau 2
Abnormal : perifer Diciptakan oleh suara yang bergerak melewati jalan nafas yang besar
Bronkotubular/ bronchial Bunyi bronchial terdengar keras dan bernada tinggi dengan kualitas bergema. Inspirasi < ekspirasi Normal : di atas trakea
Abnormal : diarea paru Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada.
Tabel Bunyi Tambahan
Bunyi Daerah yang diauskultasi Penyebab karakteristik
 Rales/ krekels
- Halus Paling umum terdengar di lokus dependen: dasar paru kanan dan kiri - Pneumonia, gagal jantung koingestif - Karakteristik halus, nada tinggi, bunyi gemesir halus terdengar di akhir inspirasi menunjukkan adanya cairan di alveoli
- Sedang - Edema paru - Karakteristik interminten, basal keras, nada sedang, terdengar diawal/ tengah inspirasi, hilang dengan batuk, menunjukkan cairan dalam bronkus
- Kasar - Pneumonia dengan gejala paru yang mereda, bronchitis - Keras bergelembung, nada rendah, terdengar pada ekspirasi, hilang dengan batuk, menunjukkan adanya cairan dalam bronkiolus dan bronkus
- Ronki Terdengar di atas trakea dan bronkus - -
- Sonor Jika cukup keras terdengar di sebagian besar paru-paru - Bronchitis - Kontinu, mendengur, nada rendah, terdengar di seluruh siklus pernafasan, hilang dengan batuk menunjukkan keterlibatan bronkus dan trakea
 Sibilant - Asma - Kontinu, musical, nada tinggi, terdengar di tengah hingga akhir ekspirasi, menunjukkan edema dan obstruksi jalan nafas yang lebih kecil, mungkin terdengar dengan stetoskop.
- Mengi
- Inspirasi

- Ekspirasi Dapat didengar di seluruh bidang paru - Obstruksi tinggi


- Obstruksi rendah - Sonor, musical terdengar pada inspirasi
- Bunyi bersiul, bunyi seperti menggosok, keras, nada tinggi, terdengar selama eskpirasi
- Gesekan plueral Terdengar dibidang paru lateral anterior (jika klien duduk tegak) - Permukaan pleura yang meradang - Seperti memarut, menggosok keras, nada tinggi mungkin terdengar selama inspirasi atau ekspirasi

C. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul Pada Tuan K
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan asthma ditandai dengan dispnea. Suara nafas tambahan wheezing, arthopneu, dan terdapat spuntum.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveoli ditandai dengan dispnea, warna kulit pucat dan irama nafas abnormal.
3. Pada nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperuentilasi ditandai dengan dispnea retraksi otot dada, frekuensi nafas lebih dari 24 x/ menit, ekspirasi memanjang.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan gangguan tidur, perubahan nafas, dan perubahan nafsu makan.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam memasukkan, mencerna mengabsorbpsi makanan karena factor biologis.

Tujuan (NOC) dari diagnosa yang diterapkan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan asthma ditandai dengan dispnea, suara nafas tambahan wheezing.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam dari sebelumnya dengan hasil :
a. Respiratory status : vebtilation (0403)
- Memudahkan jalan nafas (040305)
- Mampu mengeluarkan spuntum dari jalan nafas (040306)
- Tidak ada pusect lips (040312)
- Meniadakan sesak nafas pada saat istirahat (040313)
b. Resoiratory status : airway patency (0401)
- Membebaskan dari suara yang abnormal (041007)
- Mengelurkan spuntum dari jalan nafas (041006)
c. Aspiration control (1918)
- Mampu mengidemtifikasi factor (19801)
- Mencegah factor yang dapat menghambat jalan nafas (19802)
-
2. Kerusakan pertuaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveoli ditandai dengan dispnea, warna kulit pucat dan irama nafas abnormal.
a. Respiratory status : ventilation (0403)
- Memudahkan jalan nafas (040305)
- Mampu mengeluarkan sputum dari jalan nafas (040306)
- Tidak ada pused lips (040312)
- Meniadakan sesak nafas pada saat istirahat (040313)
b. Vital sign status (0802)
- Respirasi rate (080204)

3. Pola nafas tidak efektif denbgan hiperventilasi ditandai dengan dispnea, retraksi otot dada, frekuensi nafas lebih dari 24 x /menit, ekspresi mamanjang.
Setalah dilakukan tindakan keperawatan selama ……………..x…………jam, pola pasien lebih efektif dari sebekumnya dengan kiteria :
a. Respiratoiry stus : ventilation
- Memudahkan jalan nafas (040305)
- Mampu mengeluarkan spuntum dari jalan nafas (040306)
- Tidak ada pused lips (040312
- Meniadakan sesak nafas pada saat istirahat (040313)
b. Respiratory status : airway patency (080)
- Resipartion reta (080204).

4. Dx 4
Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 4 x 24 jam nyeri pasien berkurang dari sebelumnyua denan krieria :
 Pain level (1202)
- Melaporkan nyeri berkurang (210201)
- Frekuensi berkurang di sebekumnuya dengan alkhitub. (210203)
- Change in RR (210210)
 Pan kontrol (1605)
- Mengetahui penyebab nyert (160451)
- Mampu mengontrol nyeri (160502)
- Mencari bantuan apabila ada tanda-tanda sakit (160506)
- Melaporkan apabila ada gejala kepada tenaga professional kesehatan (160506)
- Melaporkan control nyeri (160511)

5. Dx 5
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan masukan dan pengeluaran nutrisi efektif dengan criteria :
Nutritional status : food and fluid intake (1008)
- Pemasukan makanan ke mulut (100801)
- Zat cairan masuk ke mulut baik (100803)
- Memasukan ke saluran makanan (100802)
- Fluid intake (100804)
INTERVENSI
Dx 1
Airway Management (3140)
- Buka jalan nafas, gunakan teknik chinlift atau jaw thrats bila perlu
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi semifowlar
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
- Keluarkan secret dengan batuk atau suction.
Dx 2
Acid –Base Management (1910)
- Maintain a patient airway
- Memantau respirasi pasien
Airway Management (3140)
- Membuka jalan nafas, menggunakan teknik chift lift atau jaw thrust bila perlu
Dx 3
Airway Management (3140)
- Membuka jalan nafas
- Pasien diposisikan untuk memaksimalkan ventilasi dengan posisi semi fowler
- Mengeluarkan secret dengan batuk atau suction
- Mengatur intake cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan
Dx 4
Pain Management (1400)
- Melakukan pengkajian nyeri pada lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi
- Memilih dan melakukan penanganan nyeri dengan bantuan farmakologi
- Tingkatkan istirahat
Dx 5
Nutrision Management (1100)
- Mengkaji adanya alergi makanan
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
- Memonitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
- Mengkaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

GAMBAR

Kamis, 15 April 2010

ASKEP OSTEOPOROSIS

OSTEOPOROSIS


I. PENGERTIAN
Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana terdapat pengurangan jaringan tulang per unit volume, sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya fraktur terhadap trauma minimal
Osteoporosis adalah suatu kondisi dimana terjadi pengurangan dari total massa tulang

II. ETIOLOGI
a. Usia : > 40 tahun
b. Genetik
c. Mekanis : immobilitas
d. Makanan : defisit kalsium, protein, konsumsi cafein dan alkohol berlebih
e. Hormon : estrogen

III. KLASIFIKASI
Osteoporosis dibagi menjadi :
1. Osteoporosis primer adalah keadaan umum/biasa terjadi dan bukan keadaan patologis (alami)
a. Osteoporosis tipe I (Post menopause)
Terjadi pada wanita post menopause (dengan usia 55 – 65 th)
b. Osteoporosis tipe II (snile)
Terjadi pada usia > 65 th, terjadi pada laki-laki dan perempuan tetapi 2 X lebih sering pada wanita
2. Osteoporosis skunder adalah terjadi akibat pengobatan (misal : hipertiroidisme) atau pengobatan yang lama (kortikosteroid).


IV. PATOFISIOLOGI
Usia Defisit Ca Immobilisasi Hormon Estrogen

PTH

Fungsi Osteoblas Osteoklas

Pembentukan tulang Resorbsi Ca tulang


Demineralisasi tulang

Penurunan massa tulang

Pengeroposan tulang

Tulang rapuh / Osteoporosis

Kelemahan






V. PENGKAJIAN
1. Identitas
Sering terjadi pada wanita, ras putih, usia > 40 tahun, pekerja berat
2. Keluhan utama
Adanya nyeri yang timbul secara mendadak dan hebat pada daerah yang terkena dan akan bertambah nyeri bila dipergunakan untuk beraktivitas atau bergerak. Nyeri berkurang apabila dipergunakan untuk beristirahat.
3. Pola nutrisi
- Adanya riwayat defisit intake kalsium dan protein
- Adanya riwayat perokok, peminum alkohol dan kopi.
4. Pola eliminasi
Adanya keluhan konstipasi
5. Pola seksual
Sering terjadi pada wanita yang memasuki masa menopause karena penurunan hormon estrogen.
6. Pola aktivitas / istirahat
Adanya keterbatasan pergerakan dan kelemahan.
7. Psikologi
Adanya perasaan cemas dan takut untuk beraktivitas
8. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Adanya deformitas vertebra torakalis (kifosis) yang mengakibatkan keluhan penurunan tinggi badan.
9. Pola sirkulasi
Peningkatan kerja jantung diikuti peningkatan nadi
10. Pola interaksi sosial
Gangguan body image karena keterbatasan pergerakan fisik dan perubahan fisik
11. Pola aman nyaman
Adanya nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata dan timbul secara mendadak dan hebat.
12. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya reabsorbsi tulang
- Mengukur kadar kalsium dan air kemih puasa dibagi dengan kreatinin
- Mengukur kadar hidroksin – prolin dalam air kemih puasa dibagi dengan kreatinin.
b. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya bentuk tulang
- Mengukur kadar fosfatase alkali serum
- Mengukur Bone-gla-protein plasma (Osteokalium)
c. Pemeriksaan radiologi : MRI, dan X ray tulang

VI. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi cedera sehubungan dengan kecelakaan ringan/jatuh.
2. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan penurunan tonus otot dan nyeri
3. Nyeri sehubungan dengan efek dari adanya fraktur

VII. INTERVENSI
Dx I : Resiko tinggi cedera sehubungan dengan kecelakaan ringan/jatuh.
Tujuan : Klien terbebas dari cedera atau trauma
Kriteria hasil : setelah dilakukan intervensi klien dapat :
- Mencegah terjadinya jatuh atau fraktur
- Terhindar dari aktivitas yang dapat menimbulkan jatuh atau fraktur
Intervensi :
1. Ciptakan lingkungan yang aman (untuk klien rumah sakit):
- Anjurkan klien untuk menggunakan sandal anti selip
- Hindarkan lantai dari peralatan yang berserakan yang dapat menyebabkan jatuh/tersandung.
- Sediakan tempat tidur yang rendah
- Berikan penerangan yang lebih
- Letakkan keperluan sehari dekat dengan tempat tidur yang mudah dicapai (misal : air minum)
- Sediakan pegangan tangan pada kamar mandi
R : Menciptakan lingkungan yang aman, bebas dari kemungkinan jatuh atau cedera.
2. Dukung utnuk melakukan ambulasi sesuai kemampuan :
- Kaji adanya kebutuhan tongkat dan walker
- Konsultasi dengan ahli fisioterapi
- Anjurkan klien untuk minta bantuan bila perlu
- Anjurkan klien untuk tidak langsung berdiri setelah bangun tidur.
R : Memberikan bantuan klien berambulasi mencegah terjadinya kecelakaan.
3. Bantu klien dalam mencegah kecelakaan ketika melakukan ADL (misal : terbentur pagar, pintu)
R : Benturan keras bisa mengakibatkan fraktur tulang
4. Anjurkan klien untuk tidak mengangkat benda berat. Dan apabila dalam posisi jongkok, kembali ke posisi berdiri dengan pelan-pelan.
R : Pergerakan tubuh yang cepat dapat menyebabkan penekanan tulang
5. Amati efek samping penggunaan obat pada klien
R : Obat-obatan seperti : diuretik, penotiasid dapat menyebabkan pusing, lemah sehingga memungkinkan klien jatuh.
6. Beri pengetahuan klien tentang diet dalam mencegah osteoporosis lebih lanjut
- Anjurkan klien untuk makan makanan yang mengandung kalsium
- Anjurkan klien untuk mengurangi dan menghindari pemasukan kafein.
R : Diet kalsium untuk mempertahankan kadar kalsium dalam serum. Terlalu banyak kafein dapat menambah pengeluaran kalsium dalam urine.
7. Beritahu klien tentang pengaruh rokok terhadap pembentukan tulang.
R : Rokok dapat menyebabkan asidosis, yang mana asidosis meningkatkan resorbsi tulang.
Dx II : Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan penurunan tonus otot dan nyeri
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari
Kriteria hasil : setelah dilakukan intervensi klien dapat :
- Klien dapat melakukan mobilitas dengan melakukan ADL sendiri
Intervensi :
1. Konsultasi dengan ahli fisioterapi dalam mempertimbangkan program aktivitas untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Kaji kebutuhan aktivitas klien
- Beritahu klien untuk aktivitas yang tidak boleh dilakukan
- Ajarkan pada klien tentang pentingnya exercise
R : Exercise dapat meningkatkan kekuatan tulang, tonus otot dan merangsang sirkulasi darah pada tulang dan jaringan otot.
2. Kaji kemampuan klien dalam aktivitas yang dapat dilakukan secara mandiri
R : Nyeri dan penurunan tonus otot dapat membatasi klien dalam aktivitas secara mandiri, terutama setelah fraktur.
3. Kaji apakah perlu bantuan utnuk melakukan ADL, kolaborasi dengan ahli fisioterapi
R : Memberi kesempatan klien untuk melakukan aktivitas mandiri

Dx III : Nyeri sehubungan dengan efek dari adanya fraktur
Tujuan : Klien terbebas dari nyeri
Kriteria hasil : Setelah dilakukan intervensi klien dapat :
- Klien mengatakan nyeri berkurang
- Mengatasi nyeri secara mandiri
Intervensi :
1. Kaji tingkat nyeri
R : Ambang nyeri dari tiap individu berbeda
2. Ajarkan klien utnuk melakukan relaksasi
R : Nyeri berkurang dengan mengalihkan perhatian klien
3. Berikan kompres hangat pada daerah nyeri
R : Kompres hangat meningkatkan sirkulasi darah pada daerah nyeri dan meringankan spasme otot.
4. Pantau adanya tanda dan gejala fraktur
R : Deteksi dini adanya fraktur
5. Kolaborasi dalam pemberian analgesik
R : Untuk mengurangi nyeri sesuai advis dokter

VIII. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Pemberian Kalsium Karbonat
- Berikan sebelum makan dan menjelang tidur serta anjurkan banyak minum air putih
R : Kalsium pada keadaan lambung kosong dapat mengakibatkan iritasi dan kalsium bereaksi cepat pada saat imobilisasi. Serta banyak minum mencegah batu ginjal
- Kaji adanya hiperkalsemi
R : Hiperkalsemi meningkatkan resiko batu ginjal
2. Pemberian Estrogen (bisa dikombinasi dengan progesteron)
- Kaji adanya riwayat tumor, hipertensi, penyakit hati.
R : Estrogen bisa memperburuk klien dengan penyakit tersebut
- Anjurkan klien untuk periksa ginekologi setiap 6 bulan
R : Terapi estrogen berefek pada kandungan
- Observasi tekanan darah klien
R : Terapi estrogen berefek pada sistem kardiovaskuler
3. Pemberian Vit D (7000 – 8000 IU PO)
4. Pemberian sodium flouride (40 – 90 mg)


BY: FITRIYANTI
04.07.1616

ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL

ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONKIAL

Definisi
Asthma disebut juga sebagai reactive air way disease (RAD), adalah suatu penyakit obstruksi pada jalan nafas secara riversibel yang ditandai dengan bronchospasme, inflamasi dan peningkatan sekresi jalan napas terhadap berbagai stimulan.
Patofisiologi
 Astma pada anak terjadi adanya penyempitan pada jalan nafas dan hiperaktif dengan respon terhadap bahan iritasi dan stimulus lain.
 Dengan adanya bahan iritasi atau allergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat antibodi tubuh muncul ( immunoglobulin E atau IgE ) dengan adanya alergi. IgE di muculkan pada reseptor sel mast dan akibat ikatan IgE dan antigen menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator tersebut akan memberikan gejala asthma.
 Respon astma terjadi dalam tiga tahap : pertama tahap immediate yang ditandai dengan bronkokontriksi ( 1-2 jam ); tahap delayed dimana brokokontriksi dapat berulang dalam 4-6 jam dan terus-menerus 2-5 jam lebih lama ; tahap late yang ditandai dengan peradangan dan hiperresponsif jalan nafas beberapa minggu atau bulan.
 Astma juga dapat terjadi faktor pencetusnya karena latihan, kecemasan, dan udara dingin.
 Selama serangan asthmatik, bronkiulus menjadi meradang dan peningkatan sekresi mukus. Hal ini menyebabkan lumen jalan nafas menjadi bengkak, kemudian meningkatkan resistensi jalan nafas dan dapat menimbulkan distres pernafasan
 Anak yang mengalami astma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada jalan nafas.Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan pertukaran gas.Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat ventilasi dan saturasi 02, sehingga terjadi penurunan p02 ( hipoxia).Selama serangan astmati, CO2 terthan dengan meningkatnya resistensi jalan nafas selama ekspirasi, dan menyebabkan acidosis respiratory dan hypercapnea. Kemudian sistem pernafasan akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea), kompensasi tersebut menimbulkan hiperventilasi dan dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hypocapnea).
Alergen, Infeksi, Exercise ( Stimulus Imunologik dan Non Imunologik )

Merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel T helper

IgE diikat oleh sel mastosit melalui reseptor FC yang ada di jalan napas

Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan mastosit

Akibat ikatan antigen-IgE, mastosit mengalami degranulasi dan melepaskan mediator radang ( histamin )

Peningkatan permeabilitas kapiler ( edema bronkus )
Peningkatan produksi mukus ( sumbatan sekret )
Kontraksi otot polos secara langsung atau melalui persarafan simpatis ( N.X )

Hiperresponsif jalan napas

Astma

 Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, edema mukosa dan meningkatnya produksi sekret.
 Fatigue berhubungan dengan hypoxia meningkatnya usaha nafas.
 Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distress pernafasan
 Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan
 Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik
 Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan

Komplikasi
 Mengancam pada gangguan keseimbangan asam basa dan gagal nafas
 Chronik persistent bronchitis
 Bronchiolitis
 Pneumonia
 Emphysema.

Etiologi
 Faktor ekstrinsik :reaksi antigen- antibodi; karena inhalasi alergen (debu, serbuk-serbuk, bulu-bulu binatang).
 Faktor intrinsik; infeksi : para influenza virus, pneumonia,Mycoplasma..Kemudian dari fisik; cuaca dingin, perubahan temperatur. Iritan; kimia.Polusi udara ( CO, asap rokok, parfum ). Emosional; takut, cemas, dan tegang. Aktivitas yang berlebihan juga dapat menjadi faktor pencetus.

Manifestasi klinis
 Auskultasi :Wheezing, ronki kering musikal, ronki basah sedang.
 Dyspnea dengan lama ekspirasi; penggunaan otot-otot asesori pernafasan, cuping hidung, retraksi dada,dan stridor.
 Batuk kering ( tidak produktif ) karena sekret kental dan lumen jalan nafas sempit.
 Tachypnea, orthopnea.
 Diaphoresis
 Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernafasan.
 Fatigue.
 Tidak toleransi terhadap aktivitas; makan, bermain, berjalan, bahkan bicara.
 Kecemasan, labil dan perubahan tingkat kesadaran.
 Meningkatnya ukuran diameter anteroposterior (barrel chest) akibat ekshalasi yang sulit karena udem bronkus sehingga kalau diperkusi hipersonor.
 Serangan yang tiba-tiba atau berangsur.
 Bila serangan hebat : gelisah, berduduk, berkeringat, mungkin sianosis.
 X foto dada : atelektasis tersebar, “Hyperserated”

Pemeriksaan Diagnostik
 Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
 Foto rontgen
 Pemeriksaan fungsi paru; menurunnya tidal volume, kapasitas vital, eosinofil biasanya meningkat dalam darah dan sputum
 Pemeriksaan alergi
 Pulse oximetri
 Analisa gas darah.

Penatalaksanaan serangan asma akut :
 Oksigen nasal atau masker dan terapi cairan parenteral.
 Adrenalin 0,1- 0,2 ml larutan : 1 : 1000, subkutan. Bila perlu dapat diulang setiap 20 menit sampai 3 kali.
 Dilanjutkan atau disertai salah satu obat tersebut di bawah ini ( per oral ) :
a. Golongan Beta 2- agonist untuk mengurangi bronkospasme :
 Efedrin : 0,5 – 1 mg/kg/dosis, 3 kali/ 24 jam
 Salbutamol : 0,1-0,15 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
 Terbutalin : 0,075 mg/kg/dosis, 3-4 kali/ 24 jam
Efeknya tachycardia, palpitasi, pusing, kepala, mual, disritmia, tremor, hipertensi dan insomnia, . Intervensi keperawatan jelaskan pada orang tua tentang efek samping obat dan monitor efek samping obat.

b. Golongan Bronkodilator, untuk dilatasi bronkus, mengurangi bronkospasme dan meningkatkan bersihan jalan nafas.
 Aminofilin : 4 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
 Teofilin : 3 mg/kg/dosis, 3-4 kali/24 jam
Pemberian melalui intravena jangan lebih dari 25 mg per menit.Efek samping tachycardia, dysrhytmia, palpitasi, iritasi gastrointistinal,rangsangan sistem saraf pusat;gejala toxic;sering muntah,haus, demam ringan, palpitasi, tinnitis, dan kejang. Intervensi keperawatan; atur aliran infus secara ketat, gunakan alat infus kusus misalnya infus pump.

c. Golongan steroid, untuk mengurangi pembengkakan mukosa bronkus. Prednison : 0,5 – 2 mg/kg/hari, untuk 3 hari (pada serangan hebat).

ASUHAN KEPERAWATAN

1 PENGKAJIAN
1.1 Identitas
Pada asma episodik yang jarang, biasanya terdapat pada anak umur 3-8 tahun.Biasanya oleh infeksi virus saluran pernapasan bagian atas. Pada asma episodik yang sering terjadi, biasanya pada umur sebelum 3 tahun, dan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas.Biasanya orang tua menghubungkan dengan perubahan cuaca, adanya alergen, aktivitas fisik dan stres.Pada asma tipe ini frekwensi serangan paling sering pada umur 8-13 tahun. Asma kronik atau persisten terjadi 75% pada umur sebeluim 3 tahun.Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadi obstruksi saluran pernapasan yang persisten dan hampir terdapat mengi setiap hari.Untuk jenis kelamin tidak ada perbedaan yang jelas antara anak perempuan dan laki-laki.
1.2 Keluhan utama
Batuk-batuk dan sesak napas.
1.3 Riwayat penyakit sekarang
Batuk, bersin, pilek, suara mengi dan sesak napas.
1.4 Riwayat penyakit terdahulu
Anak pernah menderita penyakit yang sama pada usia sebelumnya.
1.5 Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu, disamping faktor yang lain.
1.6 Riwayat kesehatan lingkungan
Bayi dan anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu rumah, misalnya tungau, serpih atau buluh binatang, spora jamur yang terdapat di rumah, bahan iritan: minyak wangi, obat semprot nyamuk dan asap rokok dari orang dewasa.Perubahan suhu udara, angin dan kelembaban udara dapat dihubungkan dengan percepatan terjadinya serangan asma.

1.7 Riwayat tumbuh kembang
1.7.1 Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5 tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4 tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi.

1.7.2 Tahap perkembangan.
 Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya.
 Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
 Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7 tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
 Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi, memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan- peraturan yang dianut oleh keluarga.
 Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.
 Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
 Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation “. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
 Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana.
 Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar.
 Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan bersepeda dengan roda tiga.
1.8 Riwayat imunisasi
Anak usia pre sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG, POLIO I,II, III; DPT I, II, III; dan campak.
1.9 Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
 Gizi buruk kurang dari 60%
 Gizi kurang 60 % - <80 %  Gizi baik 80 % - 110 %  Obesitas lebih dari 120 % 1.10 Dampak Hospitalisasi Sumber stressor : 1. Perpisahan a. Protes : pergi, menendang, menangis b. Putus asa : tidak aktif, menarik diri, depresi, regresi c. Menerima : tertarik dengan lingkungan, interaksi 2. Kehilangan kontrol : ketergantungan fisik, perubahan rutinitas, ketergantungan, ini akan menyebabkan anak malu, bersalah dan takut. 3. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab sakit. 4. Lingkungan baru, memulai sosialisasi lingkungan. 1.11 Pemeriksaan Fisik / Pengkajian Persistem 1.11.1 Sistem Pernapasan / Respirasi Sesak, batuk kering (tidak produktif), tachypnea, orthopnea, barrel chest, penggunaan otot aksesori pernapasan, Peningkatan PCO2 dan penurunan O2,sianosis, perkusi hipersonor, pada auskultasi terdengar wheezing, ronchi basah sedang, ronchi kering musikal. 1.11.2 Sistem Cardiovaskuler Diaporesis, tachicardia, dan kelelahan. 1.11.3 Sistem Persyarafan / neurologi Pada serangan yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran : gelisah, rewel, cengeng → apatis → sopor → coma. 1.11.4 Sistem perkemihan Produksi urin dapat menurun jika intake minum yang kurang akibat sesak nafas. 1.11.5 Sistem Pencernaan / Gastrointestinal Terdapat nyeri tekan pada abdomen, tidak toleransi terhadap makan dan minum, mukosa mulut kering. 1.11.6 Sistem integumen Berkeringat akibat usaha pernapasan klien terhadap sesak nafas. 2 DIAGNOSA KEPERAWATAN, TUJUAN, KRITERIA HASIL, RENCANA INTERVENSI 1. Gangguan pertukaran gas, tidak efektif bersihan jalan nafas, dan tidak efektif pola nafas berhubungan dengan bronkospasme, udem mukosal dan meningkatnya sekret. Tujuan : Anak menunjukkan pertukaran gas yang normal, bersihan jalan nafas yang efektif dan pola nafas dalam batas normal. Kriteria hasil : PO2 dan CO2 dalam batas nilai normal, tidak sesak nafas, batuk produktif, cianosis tdak ada, tidak ada tachypnea,ronki dan wheesing tidak ada Intervensi : • Pertahankan kepatenan jalan nafas; pertahankan support ventilasi bila diperlukan ( oksigen 2 ml dengan kanule ). • Kaji fungsi pernafasan; auskultasi bunyi nafas, kaji kulit setiap 15 menit sampai 4 jam. • Berikan oksigen sesuai program dan pantau pulse oximetry. • Kaji kenyamanan posisi tidur anak. • Monitor efek samping pengobatan; monitor serum darah;theophyline dan catat kemudian laporkan dokter. Normalnya 10-20 ug/ml pada semua usia. • Berikan cairan yang adekuat per oral atau peranteral • Pemberian terapi pernafasan; nebulizer, fisioterapi dada, ajarkan batuk dan nafas dalam efektif setelah pengobatan dan pengisapan sekret ( suction ). • Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan pada anak untuk menurunkan kecemasan. • Berikan terapi bermai sesuai usia. 2. Fatigue berhubungan dengan hipoksia dan meningkatnya usaha nafas. Tujuan : Anak tidak tampak fatigue. Kriteria : Tidak iritabel, dapat beradaptasi dan aktivitas sesuai dengan kondisi. Intervensi : • Kaji tanda dan gejala hypoxia; kegelisahann fatigue, iritabel, tachycardia, tachypnea. • Hindari seringnya melakukan intervensi yang tidak penting yang dapat membuat anak lelah, berikan istirahat yang cukup. • Intrusikan pada orang tua untuk tetap berada didekat anak. • Berikan kenyamanan fisik; support dengan bantal dan pengaturan posisi. • Berikan oksigen humidifikasi sesuai program. • Berikan nebulizer; kemudian pantau bunyi nafas, dan usaha nafas setelah terapi. • Setelah krisis, ajarkan untuk aktivitas yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan untuk meningkatkan ventilasi,dan memperluas perkembangan psikososial. 3. Kecemasan berhubungan dengan hospitalisasi dan distres pernafasan. Tujuan : Kecemasan menurun Kriteria : Anak tenang dan dapat mengekspresikan perasaannya, orang tua merasa tenang dan berpartisipasi dalam perawatan anak. • Ajarkan teknik relaksasi; latihan nafas, melibatkan penggunaan bibir dan perut, dan ajarkan untuk berimajinasi. • Pertahankan lingkungan yang tenang ; temani anak, dan berikan support. • Ajarkan untuk ekspresi perasaan secara verbal • Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi. • Informasikan tentang perawatan, pengobatan dan kondisi anak. • Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan. 4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan meningkatnya pernafasan dan menurunnya intake cairan. Goal : Status hidrasi adekuat Kriteria : Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake cairan sesuai dengan usia dan berat badan, output urine > 2 ml/ kg per jam.
• Monitor intake dan output, mukosa membran, turgor kulit, pengeluaran urin, ukur grapitasi urin atau berat jenis urin ( nilai 1.003-1030 ).
• Monitor elektrolit
• Kaji warna sputum, konsistensi dan jumlah
• Pertahankan terapi parenteral bila indikasi, dan monitor kelebihan caiaran ( overload )
• Berikan intake cairan per oral bila toleran, hati-hati minuman yang dapat meningkatkan bronkospasme ( air dingin ).
• Setelah fase akut, ajarkan anak dan orang tua untuk minum 3-8 gelas (750-2000 ml), tergantung usia dan berat badan.
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi kronik.
Goal : Orang tua mendemonstrasikan koping yang tepat
Kriteria : Mengekspresikan perasaan dan perhatian serta memberikan aktivitas yang sesuai usia atau kondisi dan perkembangan psikososial pada anak.
• Berikan kesempatan pada orang tua untuk ekspresi perasaan.
• Kaji mekanisme koping sebelumnya pada waktu stress
• Jelaskan prosedur dan pengobatan yang diberikan
• Informasikan kepada orang tua tentang kondisi anak
• Identifikasi sumber-sumber psikososial keluarga dan finansial
6. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit dan pengobatan.
Goal : Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan pengobatan dan mengikuti regimen terapi yang diberikan.
Kriteria : Berpartispasi dalam memberikan perawatan pada anak sesuai dengan program medik atau perawatan, misalnya memberikan makan dan minum yang cukup, memberi minum obat oral pada anak sesuai program.
• Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit, pengobatan dan intervensi.
• Bantu untuk mengidentifikasi faktor pencetus.
• Jelaskan tentang emosi dan stres yang dapat menjadi faktor pencetus.
• Jelaskan tentang pentingnya pengobatan; dosis, efek samping, waktu pemberian dan pemeriksaan darah.
• Informasikan tanda dan gejala yang harus dilaporkan dan kontrol ulang.
• Informasikan pentingnya program aktivitas dan latihan nafas.
• Jelaskan tentang pentingnya terapi bermain sesuai usia.

Perencanaan Pemulangan
 Jelaskan proses penyakit dengan menggunakan gambar-gambar atau phantom.
 Fokuskan pada perawatan mandiri di rumah.
 Hindari faktor pemicu; kebersihan lantai rumah, debu-debu, karpet, bulu binatang dan lainnya.
 Jelaskan tanda-tanda bahaya akan muncul.
 Ajarkan penggunaan nebulizer.
 Keluarga perlu memahami tentang pengobatan; nama obat, dosis, efek samping, waktu pemberian.
 Ajarkan strategi kontrol kecemasan, takut dan stress.
 Jelaskan pentingnya istirahat dan latihan, termasuk latihan nafas.
 Jelaskan pentingnya intake cairan dan nutrisi yang adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Panitia Media Farmasi dan Terapi. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya
Soetjningsih. (1998). Tumbuh kembang anak . Cetakan kedua. EGC. Jakarta
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika Jakarta.
Suriadi dan Yuliana R.(2001) Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi 1 Penerbit CV Sagung Seto Jakarta.

By: ARI SETYAWATI
O4.O7.1858

ASKEP CA SERVIKS

A. Pendahuluan
Konsep Skrining untuk kanker tahap dini tentunya telah memberikan keuntungan pada kanker cerviks. Insiden invasifnya penyakit telah turun drastic hamper 50% sejak tahun 1945 di Amerika Serikat.
Selama periode waktu yang sama, insiden dari tahap dini yaitu Karsinoma In Situ (CIS) telah meningkat secara mengejutkan kira- kira 45.000 kasus baru setiap tahunnya. Insiden penyakit invasif adalah 13.500 kasus, dengan sekitar 4400 diperkirakan meninggal dunia. Puncak kejadian dari kanker cerviks invasif adalah antara usia 45-55 tahun, sedangkan puncak CIS terjadi 10 tahun lebih awal. Kenker cerviks secara terus- menerus tetap menjadi masalah kesehatan pada wanita di negara- Negara kurang berkembang. Wanita- wanita Amerika asal Afrika dan Amerika asal Hispanik mempunyai angka kejadian kanker cerviks yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat keturunan kulit putih (Caucasian) di Amerika Serikat.
B. Pengertian
Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker cerviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.(Nada, 2007)
C. Etiologi
Penyebab terjadinya kanker cerviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa factor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker cerviks. Adapun faktor- faktor resiko dari kanker cerviks adalah :
1. Wanita
a. Menjalankan aktivitas seksual di usia muda
b. Sering berganti- ganti pasangan
c. Prostitusi (mempunyai resiko 4x lipat tehadap berkembangnya kanker cerviks)
d. Perokok
e. Usia
f. Status sosial ekonomi
g. Terpajan pada virus HIV
2. Pria (Penyebab Potensial)
a. Kandungan sperma
b. Kondisi higienis
c. Jumlah pasangan seksual
d. Perokok
e. Kanker penis
D. Jenis Kanker
1. Menurut Danielle .G. dan Jane Charette. Dalam buku Keperawatan Onkologi
Ada 2 tipe utama kanker cerviks secara histologi yaitu :
a. Karsinoma Skuamosa, terdiri dari 80-95% kanker dan terjadi lebih sering pada wanita usia lanjut.
b. Adenokarsinoma. Sisa dari kasus yang ada terjadi lebih sering pada wanita usia muda dan cenderung akan menjadi kanker yang agresif (berkembang dengan sangat cepat)
2. Ada beberapa klasifikasi, tapi paling banyak penganutnya ialah yang dibuat oleh IFGO, yaitu sebagai berikut :
a. Stage 0 : Carsinoma In Situ = Ca Intraepitelial = Ca Preinvasif
b. Stage 1 : Ca terbatas pada cerviks
c. Stage 1a : Disertai invasi dari stroma (preclinical Ca) yang hanya diketahui secara histologis
d. Stage 1b : semua kasus- kasus lainnya dari stage 1
e. Stage II : sudah menjalar keluar cerviks tapi belum sampai ke panggul, telah mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3 bagian proximal
f. Stage III : sudah sampai dinding panggul dari 1/3 bagian bawah vagina
g. Stage IV : sudah mengenai organ- organ lain
E. Tanda dan Gejala
1. Gejala muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala yang spesifik untuk kanker serviks ini.
a. Perdarahan vagina abnormal
Dapat berkembang menjadi ulserasi pada permukaan epitel serviks, tetapi tidak selalu ada.
b. Nyeri abdomen dan punggung bagian bawah
Menandakan bahwa perkembangan penyakit sangat cepat.
c. Menstruasi abnormal (lebih lama dan ebih banyak)
d. Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna merah muda, coklat, mengandung darah atau hitam serta bau busuk.
2. Gejala kanker serviks stadium lanjut
a. Nafsu makan berkurang (anoreksia), penurunan berat badan, dan kelelahan
b. Nyeri panggul, punggung dan tungkai
c. Dari vagina keluar air kemih atau feses
d. Patah tulang
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pap smear
Pap smear dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebalum itu, misalnya menikah. Setelah 3 kali hasil pemeriksaan tahunan menunjukkan negative maka selanjutnya harus melakukan pemeriksaan setiap tiga tahun sekali sampai umur 65 tahun.
2. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
Kolposkopi dilakukan ketika ditemukan displasia atau kersinoma insitu. Alat ini memberikan gambaran tentang pembesaran serviks dan daerah abnormal yang mungkin dapat dibiopsi.
3. Kuretase endoserviks
Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat.
4. Biopsy kerucut
Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
5. MRI/CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
6. Tes Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
G. Penatalaksanaan
1. Terapi local
Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi biopsy, cauterasi, terapi laser, konisasi, dan bedah buku.
2. Histerektomi
Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status anak, dan atau keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa para aurtik.
3. Pembedahan dan terapi radiasi
a. Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker.
b. Dilakukan pada kanker serviks invasive
c. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi tumor serta mengecilkan tumor
4. Radioterapi batang eksternal
a. Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu tegas
b. Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi, karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)
5. Eksenterasi pelvic
a. Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang
b. Dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya.
6. Kolostomi dan illeustomi
Illeustomi dilakukan untuk sebagai saluran pembuangan illeus.
7. Terapi biologi
Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)
8. Kemoterapi
Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.
H. Komplikasi
1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan
a. Vistula Uretra
b. Disfungsi bladder
c. Emboli pulmonal
d. Infeksi pelvis
e. Obstruksi usus
2. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Sistitis radiasi
b. Enteritis
3. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Supresi sumsum tulang
b. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin
c. Kerusakan membrane mukosa GI
d. Mielosupresi
I. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:
1. Mencegah terjadi infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur
3. Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun
4. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit
5. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
6. Berhenti merokok
J. Diagnosa Dan Intervensi
1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan ancaman kematian
Intervensi:
a. Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya
b. Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaannya
c. Pertahankan kontak sesering mungkin dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien.
d. Berikan informasi akurat dan konsisiten mengenai proknosis
e. Jelaskan pengobatan yang dianjurkan, tujuan, dan potensial efek samping
2. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
a. Kaji tingkat nyeri, lokasi, frekuensi, durasi, dan tindakan penghilang nyeri yang digunakan
b. Berikan tindakan kenyamanan dasar, missal reposisi, gosokan punggung dan aktivitas hiburan (musik,TV)
c. Dorong penggunaan keterampilan menegement nyeri, missal relaksasi,visualisasi,bimbingan imajinasi,tertawa musik dan sentuhan terapeutik
d. Berikan analgetik sesuai indikasi
3. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder dan imunosupresi
Intervensi
a. Tingkatkan prosedur mencuci tangansebelu dan sesudah melakukan tindakan
b. Pantau TTV
c. Tekankan personal hygiene
d. Kaji semau system ( kulit, pernafasan, genetourinaria ) terhadap tanda dan gejala infeksi secara continue
e. Batasi prosedur invasive
f. Beriakan antibiotic sesuai indikasi
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi
a. Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi kanker
b. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
c. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering
d. Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun kecuali seizing dokter
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
intervensi
a. Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pemahaman diagnosa khusus, alternative pengobatan dan sifat harapan
b. Berikan informasi yang jelas dan akuratdalam cara yang nyata tetapi sensitive
c. Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatan kanker
6. Resiko tinggi perubahan pola
Intervensi
a. Diskusikan dengan pasien dan orang terdekat sifat seksualitas dan reaksi bila ini berubah atau terancam
b. Ajarkan pasien tentang efek samping dari pengobatan kanker yang diketahui mempengaruhi seksualitas
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono. 1994. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sastrawinata, Sulaiman. 1973. Ginekologi. Bandung: Eleman-Elstar Offset
Doengoes, marillyn. 1997. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC
http:/susternada.blogspot.com/2007/07/kankerserviks.html
http://cattycha.wordpress.com/2009/03/12/asuhan-keperawatan-kanker-cerviks/





.
By:ERNA KURNIAWATI
04.07.1614

askep appendixitis

APPENDICITIS

1. PENGERTIAN
Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiforis dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Kapita selekta Kedokteran jilid 2 ).
Appendicitis adalah inflamasi dari apendiks yang disebabkan oleh karena obstruksi lumen usus karena infeksi, masa fecal, benda asing atau tumor.

2. ETIOLOGI
Penyebab utama adalah penyumbatan/ obstruksi lendir yang disebabkan oleh :
1. hiperplasi folikal limfoid
2. fecal dalam lumen appendiks
3. benda asing, tumor cacing, infeksi virus
4. stictura karena fibrosis pada dinding usus
Komplikasi :
1. perforasi
2. abses
3. peritonitis

3. MANIFESTASI KLINIS
1. Nyeri yang terlikalisir/ menyelurah
2. Anoreksia, malaise, hipertermi, nausea, muntah
3. konstipasi

2.1. Patofisiologi
Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak,adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing, stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid).
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).



2.2. Dampak Masalah
2.2.1. Individu dalam hal ini terjadi gangguan dari berbagai pola fungsi kesehatan antara lain
a. Pola nutrisi dan metabolisme
Klien biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan nutrisi akibat pembatasan pemasukan makanan atau minuman sampai peristaltik usus kembali normal.

b. Pola aktifitas dan latihan
Aktifitas klien biasanya terjadi pembatasan aktifitas akibat rasa nyeri pada luka operasi sehinnga keperluan klien harus dibantu.
c. Pola tidur dan istirahat.
Klien akan mengalami gangguan kenyamanan dan pola tidur karena rasa sakit (nyeri) akibat tindakan pembedahan.
d. Pola Eliminasi
Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi kandung kemih, rasa nyeri atau karena tidak biasa BAK ditempat tidur akan mempengaruhi pola eliminasi urine . Pola eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi penurunan fungsi.
e. Pola Persepsi dan konsep diri
Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya kebiasaan gerak segala kebutuhan harus dibantu. Klien mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
f. Pola Reproduksi seksual
Adanya larangan untuk berhubungan seksual setelah pembedahan selama beberapa waktu.
g. Pola terhadap keluarga
Perawatan dan pengobatan memerlukan biaya yang banyak harus ditanggung oleh keluarganya juga perasaan cemas keluarga terhadap keadaan klien.

2.5 Asuhan Keperawatan
Dengan memberikan asuhan keperawatan perawat menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan melalui beberapa tahap yaitu :
2.5.1 Pengkajian
a. Pengumpulan data
1. Anamnesa
a. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, tanggal atau jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa, nama orang tua, alamat, umur pendidikan, pekerjaan, pekerjaan orang tua, agama dan suku bangsa.
b. Riwayat penyakit sekarang
Klien dengan post appendiktomy mempunyai keluhan utama nyeri yang disebabkan insisi abdomen.
c. Riwayat penyakit dahulu
Meliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi, operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit, obat-abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai riwayat alergi dan imunisasi apa yang pernah diderita.
d. Riwayat penyakit keluarga
Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi, gangguan jiwa atau penyakit kronis lainnya uapaya yang dilakukan dan bagaimana genogramnya .
e. Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol dan kebiasaan olah raga (lama frekwensinya), bagaimana status ekonomi keluarga kebiasaan merokok dalam mempengaruhi lamanya penyembuhan luka.
2. Pola Tidur dan Istirahat
Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien.
3. Pola aktifitas
Aktifitas dipengaruhioleh keadaan dan malas bergerak karena rasa nyeri luka operasi, aktifitas biasanya terbatas karena harus bedrest berapa waktu lamanya setelah pembedahan.
4. Pola hubungan dan peran
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat.
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
5. Pola sensorik dan kognitif
Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan, pearaan serta pendengaran, kemampuan berfikir, mengingat masa lalu, orientasi terhadap orang tua, waktu dan tempat.
6. Pola penanggulangan stress
Kebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah.
7. Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana cara klien mendekatkan diri dengan tuhan selama sakit.

2.5.2 Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
1. Status Kesehatan umum
Kesadaran biasanya kompos mentis, ekspresi wajah menahan sakit tanpa sakit ada tidaknya kelemahan.

2. Integumen
Ada tidaknya oedem, sianosis, pucat, pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan bawah .
3. Kepala dan Leher
Ekspresi wajah kesakitan pada konjungtiva lihat apakah ada warna pucat.
4. Torax dan Paru
Apakah bentuknya simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, gerakan cuping hidung maupun alat Bantu nafas frekwensi pernafasan biasanya normal (16 – 20 kali permenit). Apakah ada ronchi, whezing, stridor.
5. Abdomen
Pada post operasi biasanya sering terjadi ada tidaknya pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen, tidak flatus dan mual, apakah bisa kencing spontan atau retensi urine, distensi supra pubis, periksa apakah produksi urine cukup, keadaan urine apakah jernih, keruh atau hematuri jika dipasang kateter periksa apakah mengalir lancar, tidak ada pembuntuan serta terfiksasi dengan baik.

6. Ekstremitas
Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.
b. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium.
a. Darah. Ditemukan leukosit 10.000 – 18.0000 mn.
b. Urine. Ditemukan sejumlah kecil leukosit dan eritrosit .
2. Pemeriksaan Radiologi.
BOF, Tampak distensi sekum pada appendisitis akut.
c. Analisa data.
Dari urarai diatas pengkajian kemudian data tersebut dikelompokkan menjadi data subyektif dan data obyektif lalu dianalisa sehingga dapat ditarik kesimpulan masalah yang timbul dan untuk selanjutnya dapat dirumuskan diagnosa keperawatan (lismidar, 1990).
d. Diagnosa Keperawatan.
Tahap akhir dari pengkajian adalah diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa data yang diperoleh dari pengkajian data. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penderita post appendiktomy :
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan ( Ingnatavicius; 1991).
2. Potensial terjadi infeksi dengan invasi kuman pada luka operasi ( Doenges; 1989 ).
3. Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari team kesehatan akan penyembuhan penyakit ( Ingnatavicius; 1991 ).
2.5.3 Perencanaan
Dari diagnosa keperawatan diatas maka dapat disusun rencana perawatan sesuai dengan prioritas masalah kesehatan, yaitu :

1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan insisi pembedahan.
Tujuan :
Nyeri berkurang dalam waktu kurang dari 24 jam.
Kriteria Hasil :
Klien menyatakan nyeri berkurang, tidak takut melakukan mobilisasi, klien dapat istirahat dengan cukup.
Skala nyeri sedang
Rencana Tindakan :
a. Beri penjelasan pada klien tentang sebab dan akibat nyeri.
b. Ajarkan teknik relaksasi dan destraksi.
c. Bantu klien menentukan posisi yang nyaman bagi klien.
d. Rawat luka secara teratur daan aseptik.
Rasional :
a. Penjelasan yang benar membuat klien mengerti sehingga dapat diajak bekerja sama.
b. Dapat mengurangi ketegangan atau mengalihkan perhatian klien agar dapat mengurangi rasa nyeri.
c. Penderita sendiri yamg merasakan posisi yang lebih menyenangkan sehingga mengurangi rasa nyeri.
d. Perawatan luka yang teratur dan aseptik dapat menghindari sekecil mungkin invasi kuman pada luka operasi.
e. Analgesik dapat mengurangi rasa nyeri.

2. Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan invasi kuman pada luka operasi.
Tujuan :
Infeksi pada luka operasi tidak terjadi.
Kriteria hasil :
Tidak ada tanda – tanda infeksi (rubor, dolor ) luka bersih dan kering.
Rencana tindakan :
a. Beri penjelasan pada klien tentang pentingnya perawatan luka dan tanda - tanda atau gejala infeksi.
b. Rawat luka secara teratur dan aseptik.
c. Jaga luka agar tetap bersih dan kering.
d. Jaga kebersihan klien dan lingkungannya.
e. Observasi tanda – tanda vital.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk antibiotik yang sesuai.
Rasional :
a. Penderita akan mengerti pentingnya perawatan luka dan segera melapor bila ada tanda – tanda infeksi.
b. Perawatan luka yang teratur dan aseptik dapat menghindari sekecil mungkin invasi kuman pada luka operasi.
c. Media yang lembab dan basah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman.
d. Mengetahui sedini mungkin tanda – tanda infeksi pada luka operasi.
e. Mengetahui sedini mungkin tanda – tanda infeksi secepatnya mengatasi .
3. Kecemasan sehubungan dengan kurangnya informasi dari Antibiotik menghambat proses infeksi dalam tubuh.
Tujuan :
Rasa cemas berkurang.
Kriteria hasil :
Klien dapat mengekspresikan kecemasan secara konstruktif, klien dapat tidur dengan tenang dan berkomunikasi dengan teman sekamarnya.
Rencana Tindakan :
a. Jelaskan keadaan proses penyebab dan penyakitnya
b. Jelaskan pengaruh psikologis terhadap fisiknya (Penyembuhan penyakit).
c. Jelaskan tindakan perawatan yang akan diberikan.
Rasional :
a. Dengan penjelasan diharapkan klien dapat mengerti sehingga klien menerima dan beradaptasi dengan baik.
b. Pengertian dan pemahamannya yang benar membantu klien berfikir secara konstruktif.
c. Dengan penjelasan benar akan menambah keyakinan atau kepercayaan diri klien. (FK UI; 1990)

2.5.4 Pelaksanaan
Merupakan realisasi dan rencana tindakan keperawatan yang telah diberikan pada klien.

2.5.5 Evaluasi
Merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan.
Tujuan evaluasi adalah : Untuk menilai apakah tujuan dalam keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan pengkajian ulang. Untuk menilai apakah tujuan tercapai sebagian, seluruhnya atau tidak tercapai dapat dibuktikan dari prilaku penderita.
Dalam hal ini juga sebagai langkah koreksi terhadap rencana keperawatan semula. Untuk mencapai rencana keperawatan berikutnya yang lebih relevan.

DAFTAR PUSTAKA

Baratajaya, Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 1990

Dona P. Ignatavicus, Medical surgical Nursing A Nursing Aproach , edisi I; 1991.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Digestive Surgency, Surabaya.

Lismidar, Proses keperawatan FKUI; 1990.

Marlyn E. Doenges, Nursing care Plans, F. A. Davis Company, Philadelphia; 1989.

M.A. Henderson, Ilmu Bedah Untuk Perawat, Penerbit Yayasan essentia media, 1989.

Purnama Junaidi, Atiek S. Soemasto, Husna Amels,Kapita selecta kedokteran edisi II Media Aeskulis, FKUI ; 1982.

Puruhito Dr, Soetanto Wibowo Dr, Soetomo Basuki Dr, Pedoman Tehnik Operasi “OPTEK” UNAIR Press; 1993.

Soeparman Sarwono, Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI; 1990.

Win Dejong, R, Syamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC; 1997.


By: NILA YULI FIRMA NING TYAS
O4.07.1640

Rabu, 14 April 2010

FRAKTUR

FRAKTUR

a. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis serta luasnya. Fraktur dapat disebabkan oleh adanya pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak ataupun kontraksi otot ekstrim. Meskipun patah jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh yang dapat mengakibatkan udema jaringan lunak, perdarahan keotot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau fragmen tulang.

b. Jenis Fraktur
1. Fraktur Komplet
adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal
2. Fraktur Tidak komplet
yaitu patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang
3. Fraktur Tertutup ( simpel)
Yaitu fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit
4. Fraktur Terbuka (komplikata atau kompleks)
merupakan fraktur dengan luka pada kulit adau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka dibagi menjadi:
a. Grade I fengan luka bersih panjangnya kurang dari 1 Cm
b. Greade II luka lebih luas tanpa kerusaka jaringan lunak yang ekstensif.
c. Grade III mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensi yang sangat terkontaminasi dan merupakan yang paling berat.
Fraktur juga dogolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang: fraktur brgeser atau tidak bergaser. Berikut adalah berbagai jenis kusus fraktur:
 Green stick. Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainya membengkok.
 Trasfersal. Fraktur sepanjang garis tengah tulang.
 Oblik, fraktur membetuk sudut denga membentuk garis tengah tulang (lebih tidak stabil daibanding transfersal).
 Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
 Kominutiv, fraktur dalam tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
 Depresi, fraktur dengan fragmen patahn terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
 Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang).
 Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget, metstasis tulang, tumor).
 Avolsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya.
 Epifiseal, fraktur melalui ipifisis.
 Impaksi, fraktur dimana tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.
c. Manifestasi Klinis
1. Nyeri, terus menerus dan bertambah berat sampai fragme tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk menimbulkan gferakan atar afragmen tulang.
2. Setelah fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstimitas yang bisa diketahui adengan membandingkan dengan ekstrimitas normal. Ekstrimitas tak dapat berfungsi denga baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritas tulag tempat melengketnya otot.
3. Pada fraktur panjang terjadi pemendeka tulang karena kontraksi otot yang melekat diatas da bawah tempat fraktur.
4. Saat diperiksa dengan tangan teraba derik tulang yang disebut krepitus akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya (uji kreptus dapat berakibat kerusakan jaringan lunak yang lebih berat)
5. Pembegkaan dan perubahan warna lokal pada kulit karena trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelahb eberapa jam atau hari.
Tidak semua tanda dan gejala diatas terdapat pada setiap fraktur. Diagnosis fraktur tergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaaan sinar X.
d. Penatalaksanaan Kedaruratan.
Bila dicurigai adanya fraktur penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segera sebelum pasien dipindahkan bila pasien yang mengalami cidera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstrimitas harus disangga diatas dan di bawah tempat fraktur untuk mencegah gerakan rotasi/angulasi. Gerakan frgmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut. Nyeri dapt dikurangi dengan menghindari gerakan fragmnen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Imobilisasi tulang panjang ekstrimitas bawah juga dapat dilakkan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ekstrimitas yang sehat sebagai bidai bagi ekstrimitas yang cidera.
Pada ekstrimitas atas lengan dapat dibebatkan pada dada atau lengan bawah yang cidera digantung pada sling. Pada fraktur terbuka luka ditutup dengan pembalut erdih atau steril untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam, jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur bahkan jika ada fragmen tulang melalui luka.
e. Prinsip Penanganan Reduksi Fraktur
1. Reduksi fraktur, mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, fraksi, atau reduksi terbuka dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode yang dipilih tergantung pada sifat fraktur tapi prinsip yang mendasari sama. Sebelu reduksi dan imobilisasi fraktur pasien harus dipersiapkan: ijin melakukan prosedur, analgetik sesuai ketentuan, dan persetujuan anestasi.
Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisiya dengan manipulasi dan trksi manual.
2. Traksi , digunakan utuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi yang disesuaikan denganspsme otot yang terjadi.
3. Reduksi terbuka, alat fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku, atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya.
4. Imobilisasi Fraktur, setelah direduksi fragmen tulang harus di imobilisasi dan dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksternal (gips,pembalutan, bidai, traksi kontinyu, pin dan teknik gips atau fiksator eksternal) dan interna ( implant logam ).
5. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi, segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dam imoblisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neuroveskuler ( mis. Pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau dan ahli bedah ortopedi dibri tahu segera bila ada tanda gangguan neurovaskuler. Kegelisahan , ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan. Latihan isometrik dan setting otot diusahaka untuk meminimalkan atrifi disuse dan meningkatkan peredaran darah. Pengembalian brtahap pada aktifitas swemula diusahakan sesuai dengan batasan terapeutik.
6. Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur.
 Imoblisasi fragmen tulang
 Kontak fragmen tulang maksimal
 Asupan darah yang memadai
 Utrisi yangbaik
 Latihan pembebanan untuk tulang panjang
 Hormon-hormonn pertumbuhan , tiroid, kaisitonon, vitamin D, steroid dan anabolik
 Potensial listrik pada patahan tulang
7. Faktor yang menghambat penyembuhan tulang
 Trauma lokal ekstensif
 Kehilangan tulang
 Imoblisasi tak memadai
 Rongga atau ajaringan diantara fragmen tulang
 Infeksi
 Keganasan lokal
 Penyakit tulang metabolik (paget)
 Tadiasi tulang (nekrosis radiasi)
 Nekrosis evakuler
 Fraktur intraartikuler (cairan senovial mengandung fibrolisin, yang akan melisis bekuan darah awal dan memperlambat pertumbuhan jendalan)
 Usia (lansia sembuh lebih lama)
 Kartikusteroid (menghambat kecepata perbaikan
f. Perawatan Pasien Fraktur tertutup
Pasien dengan fraktur tertutup harus diusahan untuk kembali kepada aktifitas biasa sesegera mungkin. Penyembuhan fraktur dan pengembalian kekuatan penuh dan mobilitas memerlukan waktu berbulan-bulan. Pasien diajari mengontrol pembengkaa dan nyeri, mereka diorong untuk aktif dalam batas imoblisasi fraktur . pengajaran pasien meliputi perawatan diri, informasi obat-obatan, pemantauan kemungkinan potensial masalah, sdan perlunya supervisi perawatan kesehatan.
g. Perawatan Pasien Fraktur Terbuka
Pada fraktur terbuka (yang berhubungan luka terbuka memanjang sampai ke permukaan kulit dan ke daerah cedera tulang) terdapat resiko infeksi-osteomielitis, gas gangren, dan tetanus. Tujuan penanganan adalah untuk meminimalkan kemungkina infeksi luka , jaringan lunak da tulang untuk mempercepat penyembuhan jaringan lunak dan tulang. Pasien dibawa ke ruang operasi, dilakukan usapan luka, pengangkatan fragmen tulang mati atau mungkin graft tulang.
h. Komplikasi Fraktur
a. Komplikasi awal
Komplikasi awal setelah fraktur adalah :
- syok , yang bisa berakibat fatal setelah beberapa jam setelah cidera;
- emboli lemak;
- dan sindrom kompartemen yang bisa berakibat kehilangan fungsi ekstimitas permanen jika tidak segera ditangani.
Komplikasi awal lainya yang berhubungan dengan fraktur adalah infeksi, tromboemboli, (emboli paru), dan juga koagulapati intravaskuler diseminata (KID)
b. Komp1ikasi lambat
Komplikasi lambat yang dapat terjadi setelah fraktur dan dilakukan tindakan adalah :
- Penyatuan terlambat atau tidak ada penyatuan dapat dibantu dengan Stimulasi elektrik osteogenesis karena dapat mamodifikasi lingkungan jaringan membuat bersifat elektronegatif sehingga meningkatkan deposisi mineral dan pembentukan tulang.
- Nekrosis evaskuler tulang terjadi bila tulang kehilangan asupan darah dan mati.
- Reaksi terhadap alat fiksasi internal.

i. Fraktur Tibia Dan Fibula.
Fraktur bawah lutut yang paling sering adalah fraktur tibia dan fi bula yang terjadi akibat pukulan langsung, jatuh dengan kaki dalam posisi fleksi, dan gerakan memuntir yang keras. Fraktur kedua tulasng ini sering terjadi dalam kaitan satu sama lain. Pasien datang dengan nyeri, deformitas, hematome yang jelas dan udema berat. Fraktur ini sering melibatkan kerusakan jaringan lunak berat karena jaringan subkutis di daerah ini sangat tipis.
Jika funfsi saraf peroneus terganggu pasien tak mampu menggerakkan gerakan dorsofleksi ibu jari kaki dan mengalami gangguan sensasi pada sela jari pertama dan kedua. Kerusakan arteri tibialis dikaji dengan menguji respon pengisian kapiler. Pantauan terhadap kompartemen sindrome anterior perlu dengan melihat adanya nyeri yang tak berkurang dengan obat dan bertambah berat bila melakukan fleksi plantar, tegang, nyeri tekan otot di sebelah lateral krista tibia dan parestesia. Fraktur dekat sendi dapat akibatkan komplikasi hemartrosis dan kerusakan ligamen.
Penanganan.
Fraktur tibia tertutup ditangani dengan reduksi tertutup dan immobilisasi awal dengan gips sepanjang tungkai jalan atau patellar tendon bearing. Resuksi harus akurat dari sisi rotasi dan koagulasi. Jika reduksi sulit perlu dipasang pin perkutaneus dan dipertahankan posisinya dalam gips atau fiksasi eksterna.
Pembebanan berat badan parsial diperbolehkan setelah 7-10 hari. Aktifitas akan mengurangi edema dan meningkatkan peredaran darah. Gips diganti dengan gips tungkai bawah atau brace dalam waktu 3-4 minggu yang memungkinkan gerakan lutut. Penyembuhan fraktur memerlukan waktu 6-10 minggu.
Fraktur kominutif terbuka dengan traksi skelet, fiksasi interna dengan batang, plat, atau nail atau fiksasi eksterna. Latihan kaki dan lutut didorong dalam batas alat imobilisasi. Pembebanan berat badan parsial sekitar 4-6 minggu.
Untuk mengurangi udema tungkai ditinggikan , diperlukan evaluasi neurovaskuler berkesinambungan. Adanya kemungkinan kompartemen sindrome perlu dideteksi segera dan ditangani untuk mencegah defisit fungsional tetap.