gambar

gambar
KETUA KELAS

Kamis, 15 April 2010

ASKEP CA SERVIKS

A. Pendahuluan
Konsep Skrining untuk kanker tahap dini tentunya telah memberikan keuntungan pada kanker cerviks. Insiden invasifnya penyakit telah turun drastic hamper 50% sejak tahun 1945 di Amerika Serikat.
Selama periode waktu yang sama, insiden dari tahap dini yaitu Karsinoma In Situ (CIS) telah meningkat secara mengejutkan kira- kira 45.000 kasus baru setiap tahunnya. Insiden penyakit invasif adalah 13.500 kasus, dengan sekitar 4400 diperkirakan meninggal dunia. Puncak kejadian dari kanker cerviks invasif adalah antara usia 45-55 tahun, sedangkan puncak CIS terjadi 10 tahun lebih awal. Kenker cerviks secara terus- menerus tetap menjadi masalah kesehatan pada wanita di negara- Negara kurang berkembang. Wanita- wanita Amerika asal Afrika dan Amerika asal Hispanik mempunyai angka kejadian kanker cerviks yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat keturunan kulit putih (Caucasian) di Amerika Serikat.
B. Pengertian
Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker cerviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.(Nada, 2007)
C. Etiologi
Penyebab terjadinya kanker cerviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa factor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker cerviks. Adapun faktor- faktor resiko dari kanker cerviks adalah :
1. Wanita
a. Menjalankan aktivitas seksual di usia muda
b. Sering berganti- ganti pasangan
c. Prostitusi (mempunyai resiko 4x lipat tehadap berkembangnya kanker cerviks)
d. Perokok
e. Usia
f. Status sosial ekonomi
g. Terpajan pada virus HIV
2. Pria (Penyebab Potensial)
a. Kandungan sperma
b. Kondisi higienis
c. Jumlah pasangan seksual
d. Perokok
e. Kanker penis
D. Jenis Kanker
1. Menurut Danielle .G. dan Jane Charette. Dalam buku Keperawatan Onkologi
Ada 2 tipe utama kanker cerviks secara histologi yaitu :
a. Karsinoma Skuamosa, terdiri dari 80-95% kanker dan terjadi lebih sering pada wanita usia lanjut.
b. Adenokarsinoma. Sisa dari kasus yang ada terjadi lebih sering pada wanita usia muda dan cenderung akan menjadi kanker yang agresif (berkembang dengan sangat cepat)
2. Ada beberapa klasifikasi, tapi paling banyak penganutnya ialah yang dibuat oleh IFGO, yaitu sebagai berikut :
a. Stage 0 : Carsinoma In Situ = Ca Intraepitelial = Ca Preinvasif
b. Stage 1 : Ca terbatas pada cerviks
c. Stage 1a : Disertai invasi dari stroma (preclinical Ca) yang hanya diketahui secara histologis
d. Stage 1b : semua kasus- kasus lainnya dari stage 1
e. Stage II : sudah menjalar keluar cerviks tapi belum sampai ke panggul, telah mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3 bagian proximal
f. Stage III : sudah sampai dinding panggul dari 1/3 bagian bawah vagina
g. Stage IV : sudah mengenai organ- organ lain
E. Tanda dan Gejala
1. Gejala muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala yang spesifik untuk kanker serviks ini.
a. Perdarahan vagina abnormal
Dapat berkembang menjadi ulserasi pada permukaan epitel serviks, tetapi tidak selalu ada.
b. Nyeri abdomen dan punggung bagian bawah
Menandakan bahwa perkembangan penyakit sangat cepat.
c. Menstruasi abnormal (lebih lama dan ebih banyak)
d. Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna merah muda, coklat, mengandung darah atau hitam serta bau busuk.
2. Gejala kanker serviks stadium lanjut
a. Nafsu makan berkurang (anoreksia), penurunan berat badan, dan kelelahan
b. Nyeri panggul, punggung dan tungkai
c. Dari vagina keluar air kemih atau feses
d. Patah tulang
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pap smear
Pap smear dilakukan pada wanita usia 18 tahun atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebalum itu, misalnya menikah. Setelah 3 kali hasil pemeriksaan tahunan menunjukkan negative maka selanjutnya harus melakukan pemeriksaan setiap tiga tahun sekali sampai umur 65 tahun.
2. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
Kolposkopi dilakukan ketika ditemukan displasia atau kersinoma insitu. Alat ini memberikan gambaran tentang pembesaran serviks dan daerah abnormal yang mungkin dapat dibiopsi.
3. Kuretase endoserviks
Kuretase endoserviks dilakukan jika daerah abnormal tidak terlihat.
4. Biopsy kerucut
Biopsy kerucut adalah mengambil tonjolan jaringan serviks yang lebih besar untuk penelitian apakah ada atau tidak kanker invasive.
5. MRI/CT scan abdomen atau pelvis
MRI/CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.
6. Tes Schiller
Tes Schiller dilakukan dengan cara serviks diolesi dengan larutan yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah menjadi coklat sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
G. Penatalaksanaan
1. Terapi local
Terapi local dilakukan pada penyakit prainvasif, yang meliputi biopsy, cauterasi, terapi laser, konisasi, dan bedah buku.
2. Histerektomi
Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status anak, dan atau keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa para aurtik.
3. Pembedahan dan terapi radiasi
a. Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker.
b. Dilakukan pada kanker serviks invasive
c. Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi tumor serta mengecilkan tumor
4. Radioterapi batang eksternal
a. Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu tegas
b. Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi, karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)
5. Eksenterasi pelvic
a. Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang
b. Dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya.
6. Kolostomi dan illeustomi
Illeustomi dilakukan untuk sebagai saluran pembuangan illeus.
7. Terapi biologi
Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun)
8. Kemoterapi
Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.
H. Komplikasi
1. Berkaitan dengan intervensi pembedahan
a. Vistula Uretra
b. Disfungsi bladder
c. Emboli pulmonal
d. Infeksi pelvis
e. Obstruksi usus
2. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Sistitis radiasi
b. Enteritis
3. Berkaitan dengan kemoterapi
a. Supresi sumsum tulang
b. Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin
c. Kerusakan membrane mukosa GI
d. Mielosupresi
I. Pencegahan
Ada beberapa cara untuk mencegah kanker serviks, yaitu:
1. Mencegah terjadi infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur
3. Tidak boleh melakukan hubungan seksual pada anak perempuan di bawah 18 tahun
4. Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kelamin atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit
5. Jangan berganti-ganti pasangan seksual
6. Berhenti merokok
J. Diagnosa Dan Intervensi
1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan ancaman kematian
Intervensi:
a. Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya
b. Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaannya
c. Pertahankan kontak sesering mungkin dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien.
d. Berikan informasi akurat dan konsisiten mengenai proknosis
e. Jelaskan pengobatan yang dianjurkan, tujuan, dan potensial efek samping
2. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
a. Kaji tingkat nyeri, lokasi, frekuensi, durasi, dan tindakan penghilang nyeri yang digunakan
b. Berikan tindakan kenyamanan dasar, missal reposisi, gosokan punggung dan aktivitas hiburan (musik,TV)
c. Dorong penggunaan keterampilan menegement nyeri, missal relaksasi,visualisasi,bimbingan imajinasi,tertawa musik dan sentuhan terapeutik
d. Berikan analgetik sesuai indikasi
3. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder dan imunosupresi
Intervensi
a. Tingkatkan prosedur mencuci tangansebelu dan sesudah melakukan tindakan
b. Pantau TTV
c. Tekankan personal hygiene
d. Kaji semau system ( kulit, pernafasan, genetourinaria ) terhadap tanda dan gejala infeksi secara continue
e. Batasi prosedur invasive
f. Beriakan antibiotic sesuai indikasi
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemoterapi
a. Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi kanker
b. Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
c. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering
d. Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun kecuali seizing dokter
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
intervensi
a. Tinjau ulang dengan pasien atau orang terdekat pemahaman diagnosa khusus, alternative pengobatan dan sifat harapan
b. Berikan informasi yang jelas dan akuratdalam cara yang nyata tetapi sensitive
c. Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatan kanker
6. Resiko tinggi perubahan pola
Intervensi
a. Diskusikan dengan pasien dan orang terdekat sifat seksualitas dan reaksi bila ini berubah atau terancam
b. Ajarkan pasien tentang efek samping dari pengobatan kanker yang diketahui mempengaruhi seksualitas
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono. 1994. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sastrawinata, Sulaiman. 1973. Ginekologi. Bandung: Eleman-Elstar Offset
Doengoes, marillyn. 1997. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta:EGC
http:/susternada.blogspot.com/2007/07/kankerserviks.html
http://cattycha.wordpress.com/2009/03/12/asuhan-keperawatan-kanker-cerviks/





.
By:ERNA KURNIAWATI
04.07.1614

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar