gambar

gambar
KETUA KELAS

Selasa, 06 April 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TETANUS

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TETANUS”
NAMA : SILUH KOMANG RENITHA
NIM : 04.07.1647
KELAS : B/KP/VI
MATA KULIAH : KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TETANUS
A. PENGERTIAN
Tetanus adalah (rahang terkunci/lockjaw) penyakit akut, paralitik spastik yang disebabkan oleh tetanospasmin, neurotoksin, yang dihasilkan oleh Clostridium Tetani.
Tetanus adalah manifestasi sistemik yang disebabkan oleh absorbs eksotoksin sangat kuat yang dilepaskan oleh Clostridium Tetani pada masa pertumbuhan aktif dalam tubuh manusia.
Tetanus adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu toksin protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium Tetani.
Tetanus adalah penyakit dengan tanda utama kekakuan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran. Gejala ini bukan disebabkan oleh kuman clostridium tetani, tetapi akibat toksin (tetanospasmin) yang dihasilkan kuman.
Tetanus merupakan salah satu masalah serius yang mengenai otot dan saraf tubuh akibat luka yang terkontaminasi bakteri Clostridium tetani, yang sering terdapat di tanah.

B. EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia, terutama pada daerah resiko tinggi dengan cakupan imunisasi DPT yang rendah.
Reservoir utama kuman ini adalah tanah yang mengandung kotoran ternak sehingga resiko penyakit ini di daerah peternakan sangat tinggi. Spora kuman Clostridium tetani yang tahan kering dapat bertebaran di mana-mana. Port of entry tak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga melalui :
1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar
2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik
3. OMP, caries gigi
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril
5. Penjahitan luka robek yang tidak steril

C. ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Clostridium Tetani yaitu obligat anaerob pembentukan spora, gram positif, bergerak, yang tempat tinggal (habitat) alamiahnya di seluruh dunia yaitu di tanah, debu dan saluran pencernaan berbagai binatang.
Pada ujungnya ia membentuk spora, sehingga secara mikroskopis tampak seperti pukulan gendering atau raket tenis. Spora tetanus dapat bertahan hidup dalam air mendidih tetapi tidak di dalam autoklaf, tetapi sel vegetative terbunuh oleh antibiotik, panas dan desinfektan baku. Tidak seperti banyak klostridia, Clostridium Tetani bukan organisme yang menginvasi jaringan, malahan menyebabkan penyakit melalui toksin tunggal, tetanospasmin yang lebih sering disebut sebagai toksin tetanus. Toksin tetanus adalah bahan kedua yang paling beracun yang diketahui, hanya diunggulin kekuatannya oleh toksin batulinum.

D. MANIFESTASI KLINIS
Tetanus biasanya terjadi setelah suatu trauma, kontaminasi luka dengan tanah, kotoran binatang atau logam berkarat dapat menyebabkan tetanus. Tetanus juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari luka bakar, ulkus gangren, luka gigitan ular yang mngalami nekrosis, infeksi telinga tengah, aborsi septik, persalinan, injeksi intramuskular, dan pembedahan.
Masa tunas biasanya 5 – 14 hari, tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh anti serum. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan :
• Trismus ( kesukaran membuka mulut ) karena spasme otot-otot mastikatoris.
• Kaku kuduk sampai opistotonus ( karena ketegangan otot-otot erektor trunki ).
• Ketegangan otot dinding perut ( harus dibedakan dengan abdomen akut ).
• Kejang tonik apabila dirangsang karena toksin yang terdapat di kornus anterior.
• Rikus sardonikus karena spasme otot muka ( alis tertarik keatas ), sudut mulut tertarik keluar dan kebawah, bibir tertekan kuat pada gigi.
• Kesukaran menelan, gelisah, mudah terangsang, nyeri kepala, nyeri anggota badan sering merupakan gejala dini.
• Spasme yang khas, yaitu badan kaku dengan opistotonus, ekstermitas inferior dalam keadaan ekstensi, lengan kaku dan mengepal kuat. Anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermiten diselingi dengan periode relaksasi. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai dengan rasa nyeri. Kadang-kadang di sertai perdarahan intramuskular karena kontraksi yang kuat.
• Asfiksia dan sianosis terjadi akobat serangan pada otot pernafasan dan laring. Retensi urin dapat terjadi karena spasme otot uretra. Fraktur kolumna vetebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat.
• Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.
• Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang terjadi tekanan cairan di otak.

E. PATOFISIOLOGI
Biasanya penyakit ini terjdi setelah luka tusuk yang dalam misalya luka yang disebabkan tertusuk paku, pecahan kaca, kaleng atau luka tembak, karena luka tersebut menimbulkan keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor luka bakar dan patah tulang yang terbuka juga akan mngakibatkan keadaan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan clostridium tetani. Tetanus terjadi sesudah pemasukan spora yang sedang tumbuh, mempaebanyak diri dan mneghasilkan toksin tetanus pada potensial oksidasi-reduksi rendah (Eh) tempat jejas yang terinfeksi. Plasmid membawa gena toksin. Toksin yang dilepas bersama sel bakteri sel vegetatif yang mati dan selanjutnya lisis. Toksin tetanus (dan toksin batolinium) digabung oleh ikatan disulfit. Toksin tetanus melekat pada sambungan neuromuscular dan kemudian diendositosis oleh saraf motoris, sesudah ia mengalami ia mengalami pengangkutan akson retrograt kesitoplasminmotoneuron-alfa.
Toksin keluar motoneuron dalam medulla spinalis dan selanjutnya masuk interneuron penghambat spinal. Dimana toksi ini menghalangi pelepasan neurotransmitter . toksin tetanus dengan demikian meblokade hambatan normal otot antagonis yang merupakan dasar gerakan yang disengaja yang di koordinasi, akibatnya otot yang terkena mempertahankan kontraksi maksimalnya, system saraf otonom juga dibuat tidak stabil pada tetanus. Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobik berubah menjadi bentuk vegetatif dan berkembangbiak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobik ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oksigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi. Secara intra axonal toxin disalurkan ke sel saraf (cells body) yang memakan waktu sesuai dengan panjang axonnya dan aktifitas serabutnya. Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel saraf walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sunmsum belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitory transmitter dan menimbulkan kekakuan.
F. DIAGNOSIS
Diduga suatu tetanus jika terjadi kekakuan otot atau kejang pada seseorang yang memiliki luka. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan bakteri dari apusan luka.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi tetanus terjdi akibat penyakitnya seperti :
• Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) didalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pnemonia aspirasi.
• Asfiksia ini terjadi karena adanya kekakuaan otot-otot pernafasan sehingga pengembangan paru tidak dapat maksimal.
• Atelektasis karena obstruksi oleh secret hal ini karena seseorang dengan tetanus akan mengalami trismus (mulut terkunci) sehingga klien tidak dapat mengeluarkan sekret yang menumpuk di tenggorokan, atau pun menelannya.
• Fraktura kompresi ini dapat terjadi bila saat kejang klien difiksasi kuat sehingga tubuh tidak dapat menahan kekuatan luar.

H. PENATALAKSANAAN
 Umum :
1. Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi. Pemberian cairan secara i.v., sekalian untuk memberikan obat-obatan secara syringe pump (valium pump).
2. Menjaga saluran nafas tetap bebas, pada kasus yang berat perlu tracheostomy.
3. Memeriksa tambahan oksigen secara nasal atau sungkup.
4. Kejang harus segera dihentikan dengan pemberian valium/diazepam bolus i.v. 5 mg untuk neonatus, bolus i.v. atau perectal 10 mg untuk anak-anak (maksimum 0.7 mg/kg BB).


 Khusus :
1. Antibiotika PP 50.000-100.000 IU/kg BB.
2. Sera anti. Dapat diberikan ATS 5000 IU i.m. atau TIGH (Tetanus Immune Globulin Human) 500-3.000 IU. Pemberian sera anti harus disertai dengan imunisasi aktif dengan toksoid (DPT/DT/TT)
3. Perawatan luka sangat penting dan harus secara steril dan perawatan terbuka (debridement).
4. Konsultasi dengan dokter gigi atau dokter bedah atau dokter THT.

 Penatalaksanaan Medis :
Empat pokok dasar tata laksana medik : debridement, pemberian antibiotik, menghentikan kejang, serta imunisasi pasif dan aktif, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
• Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4 : 1 selama 48-72 jam selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat. Jika pasien telah dirawat lebih dari 24 jam atau pasien sering kejang atau apnea, diberikan larutan glukosa 10% dan natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4 : 1 (jika fasilitas ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu). Bila setelah 72 jam bayi belum mungkin diberi minum peroral/sonde, melalui infus diberikan tambahan protein dan kalium.
• Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang masih sering timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 24 jam berikutnya boleh diberikan tembahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya menjadi 15 mg/kgBB/hari. Setelah keadaan klinis membaik, diazepam diberikan peroral dan diurunkan secara bertahap. Pada pasien dengan hiperbilirubinemia berat atau bila makin berat, diazepam diberikan per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan secara intravena.
• ATS 10.000 U/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM. Perinfus diberikan 20.000 U sekaligus.

• Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, intravena selama 10 hari. Bila pasien menjadi sepsis pengobatan seperti pasien lainnya. Bila pungsi lumbal tidak dapat dilakukan pengobatan seperti yang diberikan pada pasien meningitis bakterialis.
• Tali pusat dibersihkan/kompres dengan alcohol 70%/Betadine 10%.
• Perhatikan jalan napas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.

 Penatalaksanaan Keperawatan
Perawatan intensif terutama ditujukan untuk mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi, menjaga saluran nafas tetap bebas, mempertahankan oksignasi yang adekuat, dan mencegah hipotermi. Perawatan puntung tali pusat sangat penting untuk membuang jaringan yang telah tercemar spora dan mengubah keadaan anaerob jaringan yang rusak, agar oksigenasi bertambah dan pertumbuhan bentuk vegetatif maupun spora dapat dihambat. setelah puntung tali pusat dibersihkan dengan perhydrol, dibutuhkan povidon 10% dan dirawat secara terbuka. Perawatan puntung tali pusat dilakukan minimal 3 kali sehari.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan laboratorium : Liquor Cerebri normal, hitung leukosit normal atau sedikit meningkat.
• Pemeriksaan kadar elektrolit darah terutama kalsium dan magnesium
• Analisa gas darah dan gula darah sewaktu penting untuk dilakukan.
• Pemeriksaan radiologi : Foto rontgen thorax setelah hari ke-5.
• Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang
• Pemeriksaan darah leukosit 8.000-12.000 m/L

J. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapi
b. Identitas orang tua:
• Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
• Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.
c. Identitas sudara kandung

2. Keluhan utama/alasan masuk RS.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
b. Riwayat kesehatan masa lalu :
• Ante natal care
• Natal
• Post natal care
c. Riwayat kesehatan keluarga
4. Riwayat imunisasi
5. Riwayat tumbuh kembang
• Pertumbuhan fisik
• Perkembangan tiap tahap
6. Riwayat Nutrisi
• Pemberian ASI
• Susu Formula
• Pemberian makanan tambahan
• Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
7. Riwayat Psikososial
8. Riwayat Spiritual
9. Reaksi Hospitalisasi :
• Pemahaman keluarga tentang sakit yang rawat inap
10. Aktifitas sehari-hari :
• Nutrisi
• Cairan
• Eliminasi BAB/BAK
• Istirahat tidur
• Olahraga
• Personal Hygiene
• Aktifitas/mobilitas fisik
• Rekreasi
11. Pemeriksaan Fisik :
• Keadaan umum klien
• Tanda-tanda vital
• Antropometri
• Sistem pernafasan : dyspnea asfiksia dan sianosis akibat kontraksi otot pernafasan.
• Sistem Cardio Vaskuler : disritmia, takikardi, hipertensi dan perdarahan, suhu tubuh awalnya 38 - 40°Catau febris sampai ke terminal 43 - 44°C.
• Sistem Pencernaan : konstipasi akibat tidak ada pergerakan usus.
• Sistem Indra
• Sistem Muskuloskeletal : nyeri kesemutan pada tempat luka, berkeringatan (hiperhidrasi), pada awalnya didahului trismus, spasme otot muka dengan peningkatan kontraksi alis mata, risus sardonicus, otot kaku dan kesulitan menelan. Apabila hal ini berlanjut terus maka akan terjadi status konvulsi dan kejang umum.
• Sistem Integument
• Sistem Endokrin
• Sistem Perkemihan : retensi urine (distensi kandung kemih dan urine output tidak ada/oliguria).
• Sistem Reproduksi
• Sistem Imun
• Sistem Saraf : Fungsi serebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi serebelum, refleks, iritasi meningen, irritability (awal), kelemahan, konvulsi (akhir), kelumpuhan satu atau beberapa saraf otak.
12. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan :
• 0 – 6 tahun dengan menggunakan DDST (motorik kasar, motorik halus, bahasa, personal sosial)
• 6 tahun keatas (perkembangan kognitif, Psikoseksual, Psikososial)
13. Tes Diagnostik
14. Terapi

K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekresi atau produksi mukus.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut.
4. Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.
5. Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang.
6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan aktifitas tetanuslysin.
7. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang.
8. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan perubahan status kesehatan, penatalaksanaan gangguan kejang.


L. RENCANA KEPERAWATAN & RASIONAL
 Dx. 1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekresi atau produksi mukus.
• Tujuan : Anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dengan kriteria jalan nafas bersih, tidak ada sekresi.
• Intervensi :
a. Kaji status pernafasan, frekuensi, irama, setiap 2 – 4 jam
b. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan sekret.
c. Gunakan sudip lidah saat kejang
d. Miringkan ke samping untuk drainage
e. Observasi oksigen sesuai program
f. Pemberian sedativa Diazepam drip 10 Amp (hari pertama dan setiap hari dikurangi 1 amp)
g. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut
• Rasional :
- Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya sekret.
- Menurunkan resiko aspirasi atau aspeksia dan osbtruksi.
- Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan.
- Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
- Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia.
- Mengurangi rangsangan kejang.
- Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia.

 Dx. 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat.
• Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan volume cairan yang dengan kriteria: membran mukosa lembab, turgor kulit baik.
• Intervensi :
a. Kaji intake dan out put setiap 24 jam
b. Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam
c. Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien.
d. Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya.
e. Pertahankan kepatenan NGT.
• Rasional :
- Memberikan informasi tentang status cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian
- Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler
- Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh
- Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat jenis urine diduga dehidrasi/peningkatan kebutuhan cairan
- Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh

 Dx. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut
• Tujuan : Status nutrisi anak terpenuhi dengan kriteria : berat badan sesuai usia, makanan 90 % dapat dikonsumsi, jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak (protein, karbohidrat, lemak dan vitamin) seimbang.
• Intervensi :
a. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan
b. Kaji bising usus bila perlu, dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang
c. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein
d. Timbang berat badan sesuai protokol
• Rasional :
- Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh.
- Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan obsrobsi air.
- Suplai kalori dan protein yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh.
- Mengevaluasi kefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.

 Dx. 4. Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.
• Tujuan : Tidak terjadi aspirasi dengan kriteria : jalan nafas bersih dan tidak ada sekret, pernafasan teratur.
• Intervensi :
a. Kaji status pernafasan setiap 2-4 jam
b. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati
c. Gunakan sudip lidah saat kejang
d. Miringkan ke samping untuk drainage
e. Pemberian oksigen 0,5 Liter
f. Pemberian sedativa sesuai program
g. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut
• Rasional :
- Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya sekret.
- Menurunkan resiko aspirasi atau aspiksia dan osbtruksi.
- Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan.
- Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
- Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia.
- Mengurangi rangsangan kejang.
- Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia.


 Dx. 5. Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang
• Tujuan : Cedera tidak terjadi dengan kriteria : Klien tidak ada cedera, tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman.
• Intervensi :
a. Identifikasi dan hindari faktor pencetus
b. Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman
c. Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel
d. Lindungi pasien pada saat kejang dan catat penyebab mulai terjadinya kejang.
• Rasional :
- Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang
- Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang
- Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien
- Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik
- Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejang

 Dx. 6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tetanus lysin , pembatasan aktifitas (immobilisasi)
• Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteria : tidak ada kemerahan , lesi dan edema.
• Intervensi :
a. Observai adanya kemerahan pada kulit
b. Rubah posisi secara teratur
c. Anjurkan kepada orang tua pasien untuk memakaikan katun yang longgar
d. Pantau masukan cairan, hidrasi kulit dan membran mukosa
e. Pertahankan hygiene kulit dengan mengeringkan dan melakukan massage dengan lotion
• Rasional :
- Kemerahan menandakan adanya area sirkulasi yang buruk dan kerusakan yang dapat menimbulkan dekubitus.
- Mengurangi stres pada titik tekanan sehingga meningkatkan aliran darah ke jaringan yang mempercepat proses kesembuhan.
- Mencegah iritasi kulti secara langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit.
- Mendeteksi adanya dehidrasi/overhidrasi yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan.
- Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi dan masagge dapat meningkatkan sirkulasi kulit.

 Dx. 7. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang.
• Tujuan : Kebutuhan aktifitas sehari-hari/perawatan diri terpenuhi, dengan kriteria : tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada iritasi pada kulit, BAB/BAK dapat dibantu.
• Intervensi :
a. Pemenuhan kebutuhan aktifitas sehari-hari.
b. Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktifitas , BAB/BAK, membersihkan tempat tidur dan kebersihan diri.
c. Berikan makanan perparenteral.
d. Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
• Rasional :
- Kebutuhan sehari-hari terpenuhi secara adekuat dapat membantu proses kesembuhan.
- Memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
- Orang tua mandiri dalam merawat anak di rumah sakit.

 Dx. 8. Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang
• Tujuan : Orang tua menunjukan rasa cemas berkurang dan dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak yang dialami, dengan kriteria : Orang tua klien tidak cemas dan gelisah.
• Intervensi :
a. Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi pada anak
b. Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya tentang kondisi anaknya.

c. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan
d. Gunakan komunikasi dan sentuhan terapeutik
• Rasional :
- Pengetahuan tentang aktifitas kejang yang memadai dapat mengurangi kecemasan.
- Ekspresi/ eksploitasi perasaan orang tua secara verbal dapat membantu mengetahui tingkat kecemasan.
- Pengetahuan tentang prosedur tindakan akan membantu menurunkan / menghilangkan kecemasan.
- Memberikan ketenangan dan memenuhi rasa kenyamanan bagi keluarga.

M. PENCEGAHAN
Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Dewasa sebaiknya menerima booster.
Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
• Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut.
• Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi.
• Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.
• Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.

DAFTAR PUSTAKA

- http://medicastore.com/penyakit/91/Tetanus.html
- http://dokteranakku.com/?p=179
- http://www.lenterabiru.com/2009/09/tetanus.htm
- http://health.wahyurobi.com/health/?p=5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar