gambar

gambar
KETUA KELAS

Kamis, 08 April 2010

ASUHAN KEPERAWATAN SINUSITIS

Oleh: Made Adikrisna (04.07.1622)
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Sinusitis merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. Sinusitis mencakup proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernafasan atas. Jika ostium kedalam saluran nasal bersih, infeksi akan hilang dengan cepat.namun demikian bila drainase tersumbat oleh septum yang mengalami penyimpangan atau oleh turbunasi yang mengalami hipertropi, taji atau polip, maka sinusitis akan menetap sebagai pencetus infeksi sekunder atau berkembang menjadi suatu proses sufurativa akut. Sinusitis adalah peradangan membrane mukosa dari satu atau lebih sinus maksilaris frontal, etmoidalis atau sfenoidalis. Sinusitis dibagi menjadi tiga :
1) Sinusitis akut
Sinusitis akut sering terjadi sebagai akibat infeksi traktus respiratorius atas, terutama infeksi virus atau eksaserbasi rhinitis alergika. Kongesti nasal yang disebabkan oleh inflamasi, oedema dan transudasi cairan, menyebabkan obstruksi rongga sinus.
2) Sinusitis sub akut
Sinusitis sub akut bila tanda akut sudah reda dan perubahan histology mukosa sinus masih reversible.
3) Sinusitis kronis
Sinusitis kronis bila perubahan tersebut sudah irreversible, misalnya menjadi jaringan granulasi atau polipoid.
B. ETIOLOGI
Sinusitis akut disebabkan oleh streptococcus pneumoneae,haemophilus influensae, stafilococcus aureus. Infeksi gigi juga sering berkaitan dengan sinusitis akut. Jika sinusitis kronik disebabkan oleh obstruksi hidung kronik akibat rabas dan oedema hidung.
1. Rinogen
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :
•Rinitis Akut (influenza)
• Polip, septum deviasi
2. Dentogen
Penjalaran infeksidari gigi geraham atas Kuman penyebab :
-Streptococcus pneumoniae
-Hamophilus influenza
- Steptococcus viridans
- Staphylococcus aureus
-Branchamella catarhatis

C. GEJALA KLINIS
1. Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah
2. Nyeri :
- Pipi : biasanya unilateral
- Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari
- Gigi (geraham atas) homolateral.
3. Hidung :
- buntu homolateral
- Suara bindeng.

D. MANIFESTASI KLINIS
1) Sinusitis akut
Gejala subyektif dibagi dalam gejala sistemik dan lokal.
• Gejala sistemik adalah demam dan lesu
• Gejala lokal pada hidung terdapat ingus, kadang berbau dan dirasakan mengalir ke nasofaring, hidung terasa tersumbat, rasa nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang-kadangn dirasakan di tempat lain karena nyeri beralih
• Pada sinusitis, maksila nyeri dibawah kelopak mata, kadang-kadang menyebar ke alveolis, sehingga terasa nyeri di gigi, nyeri alih dirasakan di dahi dan di depan telinga.
• Pada sinusitis etmoid nyeri di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang dirasakan nyeri di bola mata belakangnya dan nyeri akan bertambah bila mata digerakkan.
• Pada sinusitis frontal terasa nyeri terlokalisir di dahi atau dirasakan di seluruh kepala
• Pada sinusitis stenoid rasa nyeri di vertek, oksipitalis,di belakang bola mata dan di daerah mastoid.
Gejala obyektif :
• Sinusitis akut akan tampak pembengkakan di daerah muka. Pada sinusitis maksilla terlihat pembengkakan di pipi dan kelopak mata bawah. Pada sinusitis frontal di dahi dan kelopak mata atas. Pada sinusitis etmoid jarang timbul pembengkakan kecuali bila ada komplikasi.
• Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan oedema pada sinusitis maksilla, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak mukosa atau nanah di meatus superior.
2) Sinusitis sub akut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut, hanya tanda-tanda radang akutnya (demam,sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda.
3) Sinusitis kronis
• Gejala hidung dan nasofaring, berupa secret di hidung dan nasofaring.
• Gejala faring,yaitu rasa tidak nyaman di tenggorokan
• Gejala telinga, berupa pendegaran terganggu karena tersumbatnya tuba eustachius.
• Nyeri kepala
• Gejala mata oleh karena perjalanan infeksi melalui ductus naso ke lakrimalis

E. PATOFISIOLOGI
Sinusitis yang berhubungan dengan hyperplasia karena peradangan, infeksi terjadi berulang-ulang. Waktu antara 2 serangan makin lama makin pendek, kekebalan makin terkalahkan dan resolusi terjadi hamper tidak pernah sempurna. Pengaruh terhadap mukosa adalah penebalan dengan disertai infiltrasi yang padat. Fibrosis sub epitel menyebabkan ulserasi mukosa. Periosteum akan terkena dan hipermia meluas ke tulang-tulang yang kemudian menjadi osteoporosis dan akhirnya menjadi sklerotik.
Sinusitik sebagai bagian dari alergi umum saluran nafas, penderita mempunyai salah satu dari 2 tipe alergi.pertama adalah alergi umum diatesis yang timbul pada permulaan bersama asma, eksma, konjungtivitis dan rhinitis yang kemudian menjadi rhinitis musiman (hayfever) pada anak yang lebih tua. Kedua mungkin tidak didapatkan keluhan dan tanda dari alergi sampai umur 8 sampai 9 tahun. Secara berangsur-angsur mukosa terisi makin penuh terisi air menyebabkan bertambahnya sumbatan dan secret hidung.
Kongesti nasal oleh inflamasi  obstruksi rongga sinus  kondisi ini merupakan media pertumbuhan bakteri.
Rongga sinus berisi mucus karena ostium yang tersumbat menghambat drainase  mucus menjadi lebih tebal sejalan perkembangan sinusitis.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Sinusitis akut
Transiluminasi adalah pemeriksaan termudah,meskipun kebenarannya diragukan. Terutama berguna untuk evaluasi penyembuhan dan pada wanita hamil, untuk menghindari bahaya radiasi.
Pemeriksaan foto roentgen yang dibuat yaitu posisi waters. Posteroanterior (PA) dan lateral. Dengan posisi ini maka pada sinusitis akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa dan gambaran air fluid level. Dapat dilakukan pemeriksaan kultur kuman dan uji resistensi dari secret rongga hidung.
2) Sinusitis sub akut
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit tampak suram atau gelap.
3) Sinusitis kronis
Pemeriksaan mikrobiologi biasanya menunjukkan infeksi campuran bermacam-macam bakteri, kuman anaerob atau lebih sering ditemukan campuran dengan aerob. Dapat dilakukan pemeriksaan transiluminasi untuk sinus maksila dan sinus frontal, radiology, pungsi sinus maksila, sinuskopi sinus maksila, pemeriksaan histopatologi, nasoendoskopi meatus medius dan meatus superior.
Tomografi computer diindikasikan untuk evaluasi sinusitis dengan komplikasi. Evaluasi preoperative dan jika ada dugaan keganasan. Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih baik dari pada tomografi computer dalam resolusi jaringan lunak dan sangat baik untuk membedakan sinusitis karena jamur, neoplasma dan perluasan intrakranialnya, namun resolusi tulang tidak tergambar baik dan harganya mahal.
G. Penatalaksanaan
1) Sinusitis akut
Terapi medikamentosa berupa antibiotic (amoksisilin dan ampisilin) alternative bagi yang alergi terhadap penisilin adalah trimetoprim/ sulfametoksazol. Dekongestan oral atau topical dapat juga diberikan. Kabut dihangatkan atau irigasi salin juga dapat efektif untuk membuka sumbatan saluran sehingga memungkinkan drainase rabas purulen. Dekongestan oral yang umum adalah Drixoral dan Dimettap. Dekongestan topical yang umum adalah Afrin dan Otrivin.
Dekongestan topical harus diberikan dengan posisi kepala pasien kebelakang untuk meningkatkan drainase maksimal. Jika pasien terus menunjukkan gejala setelah 7 sampai 10 hari, maka sinus perlu diirigasi. Pemberian antihistamin pada sinusitis akut purulen tidak dianjurkan. Bila perlu diberikan analgesic untuk menghilangkan nyeri : mukolitik untuk mengencerkan secret, meningkatkan kerja silia dan merangsang pemecahan fibrin.pemberian steroid intranasal : beklometason, fluinosolid, triamsinolon.
2) Sinusitis subakut
Mula –mula diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotic yang sesuai dengan resistensi kuman, selama 10-14 hari. Juga obat-obatan simtomatis. Berupa dekongestan local (obat tetes hidung) untuk memperlancar drainase, selam 5-10 hari, dapat diberikan analgetik, antihistamin dan mukolitik. Bila perlu dapat dilakukan diatermi.
Dilakukan dengan sinar gelombang pendek sebanyak 5-6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus, jika belum membaik dilakukan pencucian sinus. Tindakan intranasal lain adalah opersi koreksi sputum, pengangkatan polip dan konkotomi total atau parsial.
3) Sinusitis kronis
Penatalaksanaan medis sama seperti sinusitis akut. Pembedahan diindikasikan pada sinusitis kronis untuk memperbaiki deformitas structural yang menyumbat ostia sinus. Pembedahan mencakup aksisi atau kauterisasi poilp, perbaikan penyimpangan septum dan menginsisi serta mendrainase sinus. Perkembangan terakhir adalah Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF).
Sebagian pasien dengan sinusitis kronis parah mendapat kesembuhan dengnan cara pindah ke daerah dengan iklim yang kering.













BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan oleh :
Nama mahasiswa,tempat pengkajian, waktu pengkajian, sumber informasi.
1. Biodata
a) Identitas klien
Nama, tampat tanggal lahir, umur , jenis kelamin, alamat, agama,suku, pendidikan, No. CM, diagnosis medis.
b) Identitas penanggung jawab
Nama, tampat tanggal lahir, umur , jenis kelamin, alamat, agama,suku, pendidikan,hubungan dengan pasien,
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Keluhan yang paling dirasakan
b) Riwayat kesehatan skarang
c) Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi, imunisasi,obat-obatan
d) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah keluarga yang memiliki penyakit yang sama dengan pasien atau penyakit lain yang bersifat genetic atau tidak.
e) Genogram
f) Riwayat kesehatan lingkungan
3. Pola fungsi kesehatan
a) Persepsi terhadap kasehatan
 Apabila sakit/ masalah kesehatan bagaimana cara mengatasi atau kepada siapa meminta pertolongan.
 Adakah kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan kesehatan misalnya: merokok, alcohol, obat-obatan,dll.
b) Pola aktivitas latihan
Mandi, berpakaian / dandan, eliminasi, mobilisasi di tempat tidur, merapikan rumah, ambulansi, makan.
c) Pola istirahat tidur
Waktu tidur, jumlah, kualitas, kebiasaan sebelum tidur, kebiasaan selama tidur, adakah kebiasaan penggunaan obat tidur.
d) Pola nutrisi metabolik
Diet khusus, anjuran diet sebelumnya, nafsu makan, jenis makanan, komposisi makanan, frekuensi. Porsi, makanan kesukaan, minum berapa gelas, minuman kesukaan, BB, TB.
e) Pola eliminasi
Kebiasaan BAB, BAB terakhir, warna, bau konsistensi, adakah kebiasaan menggunakan obat pencahar, kebiasaan BAK, jumlah, inkontinensia, warna, bau.
f) Pola kognitif perceptual
Status mental, bicara, pendengaran, penglihatan, vertigo, manajemen nyeri.
g) Pola konsep diri
Harga diri, ideal diri, identitas diri, gambaran diri, peran diri.
h) Pola koping
Masalah utama selama masuk rumah sakit, kehilangan/perubahan yang terjadi sebelumnya, takut terhadap kekerasan, pandangan terhadap masa depan.
i) Pola seksual reproduksi
Menarche,menstruasi terakhir, masalah menstruasi, pap smear terakhir, perawatan payudara setiap bulan.
j) Pola peran hubungan
Status perkawinan, pekerjaan, kwalitas bekerja, system dukungan keluarga selama masuk rumah sakit.
k) Pola nilai dan kepercayaan
Agama, larangan agama, permintaan rohaniawan selama masuk rumah sakit.
4. Pemeriksaan fisik
a) Tanda-tanda vital
Suhu, nadi, respirasi, tekanan darah, skala nyeri
b) Keadaan umum
Kesan umum, wajah, kesadaran, penafsiran umur, bentuk badan, cara berbaring dan bergerak, bicara, pakaian, kerapian dan kebersihan badan.
c) Kulit, rambut, kuku
o Inspeksi : warna kulit, lesi, jumlah rambut, warna kuku, bentuk kuku
o Palpasi : suhu, kelembapan, tekstur, turgor, edema
d) Kepala
o Inspeksi : kesimetrisan muka, tengkorak, rambut, kulit kepala
o Palpasi : kulit kepala, deformitas
e) Mata
Bentuk bola mata, kelopak mata, konjungtiva, sclera, kornea, iris,pupil, lensa, gerakan, lapang pandang, visus, tekanan bola mata.
f) Telinga
o Inspeksi : daun telinga, liang telinga, membrane tympani
o Palpasi : cartilage, nyeri tekan prosesus masteodeus, nyeri tekan tragus, uji pendengaran.
g) Hidung
o Inspeksi : bagian luar, bagian dalam, ingus, perdarahan, penyumbatan
o Palpasi : septum, sinus-sinus
h) Mulut
o Inspeksi : bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, faring, ovula, tonsil
o Palpasi : pipi, palatum, dasar mulut, lidah
i) Leher
o Inspeksi : bentuk leher, warna kulit, bengkak, hyperplasia, JVP, gerakan
o Palpasi : kelenjar limfe, kelenjar tiroid, trakea, pembuluh darah
j) Dada dan paru-paru
o Inspeksi : bentuk, retraksi/ ekspansi, kulit, payudara, frekuensi dan irama
o Palpasi : benjolan/ massa, nyeri tekan, krepitasi, ukur pengembangan dada, taktil/ vocal fremitus.
o Perkusi
o Auskultasi
k) Jantung
o Inspeksi : ictus kordis
o Palpasi : pembengkakan jantung
o Perkusi :
o Auskultasi : irama jantung
l) Abdomen
o Inspeksi : bentuk, distensi, simetris, kontur permukaan, penonjolan
o Auskultasi : peristaltic, bising arteri, bising vena
o Perkusi
o Palpasi : nyeri tekan
m) Anus dan rectum
Ada hemoroid atau tidak
n) Alat kelamin
o) Musculoskeletal
o Otot : ukuran, kontraktur,kontraksi, kekuatan, gerakan
o Tulang : deformitas, pembengkakan, edema, nyeri tekan
o Persendian : kaku, ROM, nyeri tekan, bengkak, krepitasi
p) Neurology
Kesadaran, gerakan, sensasi, regulasi, integrsi, pola pemecahan masalah/ penyesuaian diri

B. Diagnosa keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas
2) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
3) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
4) Cemas berhubungan dengan penyakit kritis
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit

C. Perencanaan
1) Nyeri akut vberhubungan dengan infeksi saluran nafas atas.
NOC :
Pain Control (1605)
Indicator :
160501 Mengenal factor-faktor penyebab
160502 Mengenal onset nyeri
160504 Tindakan pertolongan non analgetik
160505 Menggunakan analgetik
160507 Melaporkan gejala kepada tim kesehatan
160511 Nyeri terkontrol
Keterangan :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang – kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilkukan

Menunjukkan Tingkat Nyeri / Pain Level (2102)
Indikator :
210201 Melaporkan nyeri
210203 Frekuensi nyeri
210204 Lamanya episode nyeri
210206 Ekspresi (wajah) nyeri
210207 Posisi melindungi tubuh
210208 Kegelisahan
210210 Perubahan respirasi rate
210212 Perubahan tekanan darah
210213 Perubahan ukuran pupil
210214 Respirasi
210215 Kehilangan nafsu makan
Keterangan :
1. Berat
2. Agak berat
3. Sedang
4. Sedikit
5. Tidak ada
NIC
Pain Managemen (1400)
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi
 Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan
 Gunakan teknik komunikasi terapetik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
 Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
 Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
 Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
 Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi nyeri (farmakologi, non farmakologi dan interpersonal)
 Kaji tipe dan sumberv nyeri untuk menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi
 Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration (2210)
 Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesic yang diperlukan atau kombinasi dan analgesic ketika pemberian lebih dari satu tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri
 Tentukan analgesic pilihan, rute, pemberian dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic secara pertama kali
 Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi aktivitas analgesic tanda dan gejala (efek samping)

2) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
NOC
Respiratory Status : Ventilation (0403)
Indicator :
040301 Respiratory rate
040302 Irama nafas
040303 Kedalaman inspirasi
040304 Kesimetrisan pengembangan dada
040305 Kenyamanan saat bernafas
040306 Mampu mengeluarkan sputum
Keterangan :
1. Sangat bermasalah
2. Cukup bermasalah
3. Masalah sedang
4. Sedikit bermasalah
5. Tidak bermasalah
Respiratory Status : Airway Patency (0410)
Indikator :
041001 Tidak ada demam
041002 Tidak ada cemas
041003 Tidak ada sesak nafas
041004 Frekuensi pernafasan dalam rentang normal
041005 Irama nafas
041006 Mampu mengeluarkan sputum
Keterangan :
1. Sangat bermasalah
2. Cukup bermasalah
3. Masalah sedang
4. Sedikit bermasalah
5. Tidak bermasalah
Aspiration control (1918)
Indikator
191801 Mampu mengidentifikasi factor resiko
191802 Mencegah factor resiko
191804 Memilih makanan sesuai dengan kemampuan menelan
Keterangan :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang – kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilkukan
NIC
Airway suction (3160)
 Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning
 Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning
 Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
 Minta klien bernafas dalam sebelum suction dilakukan
 Berikan oksigen dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal
 Gunakan alat yang steril setiap melakukan tindakan
 Anjurkan pasien untuk istirahat dan nafas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal
 Monitor status oksigen pasien
 Ajarkan keluarga bagaimana cara melakukan suction
 Hentikan suction dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi oksigen
Airway managemen (3140)
 Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
 Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
 Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
 Pasang mayo bila perlu
 Lakukan fisioterapi dada bila perlu
 Keluarkan secret denngan batuk / suction
 Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
 Lakukan suction pada mayo
 Berikan bronkodilator bila perlu
 Berikan pelembab udara kassa basah Nacl lembab
 Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan
 Monitor respirasi dan status oksigen
3) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
NOC
Thermagulation (0800)
Kriteria hasil :
080002 Suhu tubuh dalam rentang normal
080003 Tidak ada pusing
080004 Otot tidak nyeri
080007 Tidak ada perubahan warna kulit
080012 Nadi dalam rentang normal
080013 RR dalam rentang normal
080014 Hidrasi cukup
080015 Melaporkan rasa nyaman
Keterangan :
1. Sangat bermasalah
2. Cukup bermasalah
3. Masalah sedang
4. Sedikit bermasalah
5. Tidak bermasalah
NIC
Fever Treatment (3740)
 Monitor suhu sesering mungkin
 Monitor IWL
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor TD, nadi dan RR
 Monitor penurunan tingkat kesadarn
 Monitor WBC, Hb, Hct
 Monitor intake dan output
 Berikan antipiretik
 Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
 Selimuti pasien
 Lakukan tapid sponge
 Berikan cairan intravena
 Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
 Tingkatkan sirkulasi udara
 Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
Temperature Regulation (3900)
 Monitor suhu minimal tiap 2 jam
 Rencanakan monitoring suhu kontinyu
 Monitor TD, nadi, dan RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor tanda – tanda hipertermi dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan
 Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien cara mencegah kelelahan skibat panas
 Diskusikan tentang pentingnya suhu dan kemungkinan efek negative dan kedinginan
 Beritahukan tentang indikasi dari hipertermi dan penanganan yang diperlukan
 Berikan antipiretik jika perlu
Vital Sign Monitoring (6680)
 Monitor TD, nadi dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Monitor vital sign saat pasien duduk, berbaring dan berdiri
 Monitor TD, nadi, RR sebelum, selam dan sesudah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama nafas
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernafasan abnormal
 Monitor suhu, warna dan kelembapan kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya chusing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
4) Cemas berhubungan dengan penyakit kritis
NOC
Anxiety control (1402)
Indicator :
140201 Monitor intensitas kecemasan
140205 Perencanaan strategi koping untuk kondisi stress
140206 Menggunakan strategi koping yang efektif
140207 Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi
kecemasan
140217 Kontrol respon cemas
Keterangan :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang – kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan

Coping (1302)
Indikator :
130201 Identifikasi mekanisme koping efektif
130202 Identifikasi mekanisme koping tidak efektif
130207 Modifikasi gaya hidup sebagai kebutuhan
130209 Menggunakan dukungan social yang tersedia
130211 Identifikasi berbagai macam strategi koping
Keterangan :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang – kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
Impulse control (1405)
Indikator :
140501 Mengidentifikasi perilaku yang berbahaya
140505 Mengenali factor resiko di lingkungan
140506 Menghindari factor resiko tinggi situasi dan lingkungan
140509 Mengidentifikasi system dukungan social
140511 Mendukung / mempertahankan kontrak untuk mengontrol perilaku
Keterangan :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang – kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC
Anxiety Reduction / penurunan kecemasan (5820)
 Gunakan pendekatan yang menyenangkan
 Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
 Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
 Berikan informasi factual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
 Dorong keluarga untuk menemani anak
 Lakukan back / neck rub
 Dengarkan dengan penuh perhatian
 Identifikasi tingkat kecemasan
 Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
 Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
 Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
 Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit
NOC
Knowledge : disease process (1803)
Indicator :
180301 Mengetahui dengan benar tentang nama penyakit
180302 Menjelaskan proses penyakit
180304 Menjelaskan factor resiko
180305 Menjelaskan tanda dan gejala
180309 Menjelaskan komplikasi yang terjadi
180310 Menjelaskan tanda dan gejala dari komplikasi
Keterangan :
1. Tidak tahu
2. Terbatas
3. Cukup
4. Banyak
5. Luas
Knowledge : health behavior (1805)
Indikator :
180501 Menjelaskan penerapan kesehatan nutrisi
180502 Menjelaskan manfaat dari aktifitas dan latihan
180503 Menjelaskan teknik manajemen stress efektif
180505 Menjelaskan metode dari rencana keluarga
180507 Menjelaskan efek dari penggunaan alkohol bagi kesehatan
180511 Menjelaskan efek dari penggunaan kafein
180515 Menjelaskan promosi dan perlindungan pelayanan kesehatan
Keterangan :
1. Tidak tahu
2. Terbatas
3. Cukup
4. Banyak
5. Luas
NIC
Teaching : disease procces (5602)
 Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses yang spesifik
 Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan cara yang tepat
 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang benar
 Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
 Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
 Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi denngan cara yang tepat
 Hindarkan harapan yang kosong
 Sediakan bagi keluarga atau informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat
 Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datangn dan atau proses pengontrolan penyakit
 Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas local, dengan cara yang tepat. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat



DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 1, EGC, Jakarta, 2001
Mansjoer Arif, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Jakarta, Media Aesculapius, 2000
Nanda (2000), Nursing Diagnosis : Prinsip dan Clasification, 2000 – 2001, Philadelphia USA
Diagnosa Aplikasi Diagnosa Nanda (Nic – Noc), 2007 – 2008
Project, Iowa Outcomes, nursing Outcomes Classification (NOC), second edition, Mosby, 2000
Project, Iowa Intervention, 1996, nursing Interventions Classification (NIC), second edition, Mosby
http : // iwansain.wordpress.com/2007/10/24/Asuhan Keperawatan pada Klien Dengan Infeksi Saluran Pernafasan Atas
http://ahmadyozi.blogspot.com/2010/03/asuhan-keperawatan-sinusitis.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar