gambar

gambar
KETUA KELAS

Sabtu, 20 Maret 2010

askep hisprung


Asuhan keperawatan hisprung

oleh : NI PUTU PRASATYAWATI (04.07.1636)


A. Pengertian

Ada beberapa pengertian mengenai mega colon, namun pada intinya sama yaitu penyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.

Hirschsprung atau mega colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( betz, cecily & sowden : 2000 ). Penyakit hirschsprung atau mega kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir  3 kg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( arief mansjoeer, 2000 ).

B. Etiologi

Adapun yang menjadi penyebab hirschsprung atau mega colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.

C. Patofisiologi

Istilah congenital aganglionic mega colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada mega colon ( betz, cecily & sowden, 2002:197). Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.

Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian colon tersebut melebar ( price, s & wilson, 1995 : 141 ).

D. Manifestasi klinis

Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan meconium dalam 24 – 28 jam pertama setelah lahir. Tampak malas mengkonsumsi cairan, muntah bercampur dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (nelson, 2000 : 317).

Gejala penyakit hirshsprung adalah obstruksi usus letak rendah, bayi dengan penyakit hirshsprung dapat menunjukkan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total saat lahir dengan muntaah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium diikuti obstruksi konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala rigan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan entrokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah ( nelson, 2002 : 317 ).

1. Anak – anak

a. Konstipasi

b. Tinja seperti pita dan berbau busuk

c. Distensi abdomen

d. Adanya masa difekal dapat dipalpasi

e. Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemi

2. Komplikasi

a. obstruksi usus

b. konstipasi

c. ketidak seimbangan cairan dan elektrolit

d. entrokolitis

e. struktur anal dan inkontinensial ( pos operasi )

E. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan dengan barium enema, dengan pemeriksaan ini akan bisa ditemukan :

a) Daerah transisi

b) gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian usus yang menyempit

c) entrokolitis padasegmen yang melebar

d) terdapat retensi barium setelah 24 – 48 jam ( darmawan k, 2004 : 17 )

2. Biopsi isap

Yaitu mengambil mukosa dan sub mukosa dengan alat penghisap dan mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa ( darmawan k, 2004 :17 )

3. Biopsi otot rektum

Yaitu pengambilan lapisan otot rektum

4. Periksaan aktivitas enzim asetil kolin esterase dari hasil biobsi isap pada penyakit ini khas terdapat peningkatan, aktifitas enzimasetil kolin esterase ( darmawan k, 2004 : 17 )

5. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsi usus

( betz, cecily & sowden, 2002 : 197 )

6. Pemeriksaan colok anus

Pada pemeriksaan ini jari akan merasakan jepitan dan pada waktu tinja yang menyemprot. Pemeriksaan ini untuk mengetahu bahu dari tinja, kotoran yang menumpuk dan menyumbat pada usus di bagian bawah dan akan terjadi pembusukan.

F. Penatalaksanaan

1. Medis

Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.

Ada dua tahapan dalam penatalaksanaan medis yaitu :

a) temporari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen aganglionik untuk melepaskan obstruksi dan secara normal melemah dan terdilatasinya usus besar untuk mengembalikan ukuran normalnya.

b) pembedahan koreksi diselesaikan atau dilakukan lagi biasanya saat berat anak mencapai sekitar 9 kg ( 20 pounds ) atau sekitar 3 bulan setelah operasi pertama.

Ada beberapa prosedur pembedahan yang dilakukan seperti swenson, duhamel, boley & soave. Prosedur soave adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari penarikan usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa aganglionik telah diubah ( darmawan k 2004 : 37 )

2. Perawatan

Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain :

a) membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada anak secara dini

b) membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak

c) mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis ( pembedahan )

d) mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang ( fkui, 2000 : 1135 )

Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak – anak dengan mal nutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta situasi dapat digunakan nutrisi parenteral total ( npt )

2. Fokus intervensi

A. Konstipasi berhubungan dengan obstruksi ketidakmampuan kolon mengevakuasi feces ( wong, donna, 2004 : 508 )

Tujuan :

1. Anak dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan

Kriteria hasil

1. Pasien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi

2. Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik

Intervensi :

1. Berikan bantuan enema dengan cairan fisiologis nacl 0,9 %

2. Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali

3. Observasi pengeluaran feces per rektal – bentuk, konsistensi, jumlah

4. Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses

5. Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan

B. Perubahan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan saluran pencernaan mual dan muntah

Tujuan :

  1. Pasien menerima asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan

Kriteria hasil

1. Berat badan pasien sesuai dengan umurnya

2. Turgor kulit pasien lembab

3. Orang tua bisa memilih makanan yang di anjurkan

Intervensi

1. Berikan asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan

2. Ukur berat badan anak tiap hari

3. Gunakan rute alternatif pemberian nutrisi ( seperti ngt dan parenteral ) untuk mengantisipasi pasien yang sudah mulai merasa mual dan muntah

C. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang (betz, cecily & sowden 2002:197)

Tujuan :

1. Status hidrasi pasien dapat mencukupi kebutuhan tubuh

Kriteria hasil

1. Turgor kulit lembab.

2. Keseimbangan cairan.

Intervensi

1. Berikan asupan cairan yang adekuat pada pasien

2. Pantau tanda – tanda cairan tubuh yang tercukupi turgor, intake – output

3. Observasi adanay peningkatan mual dan muntah antisipasi devisit cairan tubuh dengan segera

D. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatanya. ( whaley & wong, 2004 ).

Tujuan : pengetahuan pasien tentang penyakitnyaa menjadi lebih adekuat

Kriteria hasil :

1. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnyaa, perawatan dan obat – obatan. Bagi penderita mega colon meningkat daan pasien atau keluarga mampu menceritakanya kembali

Intervensi

  1. Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal – hal yang ingn diketahui sehubunagndengan penyaakit yang dialami pasien
  2. Kaji pengetahuan keluarga tentang mega colon
  3. Kaji latar belakang keluarga
  4. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan serta obat – obatan pada keluarga pasien
  5. Jelaskan semua prosedur yang akan dilaksanakan dan manfaatnya bagi pasien

Menggunakan liflet aatau agmbar dalam menjelaskan ( suriadi & yuliani, 2001: 60 ).

Daftar pustaka

A. Price, s. (1995). Patofisiologi. Jakarta: egc

Arief mansjoer( 2000 ), kapita selekta kedokteran, edisi 3, jakarta : media aesculapius fkui

Betz, cecily & sowden. ( 2002 ). Buku saku keperawatan pediatrik, alih bahasa jan tambayong. Jakarta : egc

Carpenito. Lj ( 2001 ). Buku saku diagnosa keperawatan, edisi 8. Alih bahasa monica ester. Jakarta : egc

Darmawan k ( 2004 ). Penyakit hirschsprung. Jakarta : sagung seto.

Hambleton, g ( 1995 ). Manual ilmu kesehatan anak di rs. Alih bahasa hartono dkk. Jakarta : bina rupa aksara

Nelson, w. ( 2000 ). Ilmu kesehatan anak. Alih bahasa a samik wahab. Jakarta : egc

Staf pengajar ilmu kesehatan anak fkui ( 2000 ). Ilmu kesehatan anak i. Jakarta : infomedika jakaarta.

Suherman. ( 2000 ). Buku saku perkembanagn anak. Jakarta : egc

Suryadi dan yuliani, r ( 2001 ) asuhan keperwatan pada anak. Jakarta : cv. Sagung seto

Wong, donna ( 2004 ). Keperawatan pediatrik. Alih bahasa monica ester. Jakarta : egc

Yupi, s. (2004). Konsep dasar keperawatan anak. Jakarta: egc

Diposkan oleh muh. Andrian senoputra di 18:23

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar