gambar

gambar
KETUA KELAS

Kamis, 18 Maret 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR TERBUKA

OLEH :
NAMA : NI PUTU EVA WIDYASTUTI
NIM : 04.07.1635
KELAS : B / KP / VI

I. KAJIAN TEORI
A. PENGERTIAN
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( Mansjoer, Arif, 2000 ).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya ( Brunner & Suddarth, 2001 ).
Fraktur dapat dibagi menjadi :
1. Fraktur tertutup, bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar .
2. Fraktur terbuka, bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka terbagi atas 3 derajat :
Derajat I:
• Luka < 1 cm
• Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
• Fraktur sederhana, tranversal, atau kominutif ringan
• Kontaminasi minimal
Derajat II :
• Laserasi > 1 cm
• Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi
• Fraktur kominutif sedang
• Kontaminasi sedang
Derajat III :
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi
atas :
• Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat
laserasi luas/flap/avulsi atau fraktur segmental/sangat kominutifyang
disebabkan oleh trauma berernergi tinggi tanpa melihat ukuran luka.
• Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar kontaminasi
masif.
• Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat
kerusakan jaringan lunak.
3. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya
mengalami pergeseran.
4. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
5. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya
membengkak.
6. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
7. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
8. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
9. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang
belakang)
10. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo
pada daerah perlekatannnya.

B. ETIOLOGI
a. Trauma :
out in : penyebab ruda paksa merusak kulit, jaringan lumak dan tulang.
In out : fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit
b. Patologis ( penyakit pada tulang )
c. Degenerasi spontan

C. MANIFESTASI KLINIS
Terdapat tanda-tanda patah tulang dengan luka di daerah tersebut. Darah yang
keluar berwarna lebih kehitaman, bercampur butiran lemak dan selalu merembes,
disertai nyeri dan perdarahan.

D. PATOFISIOLOGI
Fraktur dapat terjadi akibat trauma langsung dan tak langsung serta kondisi
patologis, setelah terjadi fraktur dapat mengakibatkan diskontinuitas tulang dan
pergeseran fragmen tulang. Pergeseran fragmen tulang otomatis menimbulkan adanya
nyeri. Diaskontinuitas tulang dapat berakibat perubahan jaringan sekitar lalu
terjadi pergeseran fragmen tulang kemudian terjadi deformitas dan gangguan fungsi
yang berujung gangguan imobilitas fisik. Perubahan jaringan sekitar juga dapat
menyebabkan laserasi kulit dimana terjadi kerusakan integritas kulit jika sampai
menyebabkan putus vena/arteri akan terjadi perdarahan lalu kehilangan volume
cairan yang berujung syok hipovolemik. Selain laserasi kulit juga berakibat ke
spasme otot yang meningkatkan tekanan kapiler terjadi pelepasan histamin, protein
plasma hilang maka terjadi edema yang menyebabkan penekanan pembuluh darah dan
dapat terjadi penurunan perfusi jaringan. Diskotinuitas akibat terjadinya fraktur
dapat mengakibatkan terjadi kerusakan fragmen tulang yang selanjutnya dapat
mengakibatkan tekanan sesama tulang lebih tinggi daripada kapiler kemudian
terjadi reaksi stres pasien dimana terjadi pelepasan katekolamin yang
memobilisasi asam lemak bergabung dengan trombosit maka terjadilah emboli yang
akan menyumbat pembuluh darah.

E. PENATALAKSANAAN
a. Live saving
Melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernapasan
(breathing), dan sirkulasi (circulation).
b. Mengurangi nyeri
c. Propilaksis antibiotika untuk kuman Gran positif dan negatifdengan dosis
tinggi, anti tetanus serum (ATS) atau tetanus human globulin.
d. Debridement & irigasi
Teknik debridemen yaitu :
• Lakukan narkosis umum atau anestesi lokal bilaluka ringan dan kecil.
• Bila luka cukup luas, pasang dulu torniket (pompa atau Esmarch).
• Cuci seluruh ekstrimitas selama 5-10 menit kemudian lakukan pencukuran. Luka
di irigasi dengan air NaCl steril atau air matang 5-10 menit sampai bersih.
• Lakukan tindakan desinfeksi dan pamasangan duk.
• Eksisi luka lapis demi lapis, mulai dari kulit, subkutis, fasia, hingga
otot. Eksisi otot-otot yang tidak vital. Buang tulang-tulang kecil yang
tidak melekat pada periosteum. Pertahankan fragmen tulang besar yang
• perlu untuk stabilitas.
• Luka fraktur terbuka selalu dibiarkan terbuka dan bila perlu ditutup satu
minggu kemudian setelah edema menghilang (secondary suture) atau dapat juga
hanya dijahit situasi bila luka tidak terlalu lebar (jahit luka jarang).(
Mansjoer, Arif, 2000)
e. Fixasi & imobilisasi
f. Penutupan luka
g. Rehabilitasi

II. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN FRAKTUR TERBUKA
A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
a. Identitas Pasien
b. Identitas Penanggungjawab
2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama
Keluhan yang paling dirasakan pasien, misal pada kasus ini : nyeri hebat pada
lokasi fraktur terbuka skala 10.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Serangkaian alur dimana pasien merasakan sakitnya sampai mendapat penanganan
oleh petugas kesehatan.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat sakit pasien sebelum mengalami sakit yang dialaminya sekarang, berisi
tentang penyakit yang pernah dialami, riwayat alergi dll.
d. Riwayat Kesehtan Keluarga
Berisi tentang adakah keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama
dengan pasien dan apakah ada penyakit keturunan dalam keluarga pasien.
e. Genogram
Gambar silsilah keluarga dari 3 generasi sebelumnya.
f. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Menjelaskan kondisi lingkungan tempat tinggal/sekitar pasien.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Persepsi terhadap kesehatan
b. Pola aktivitas latihan
c. Pola istirahat tidur
d. Pola nutrisi metabolis
e. Pola eliminasi
f. Pola kognitif perseptual
g. Pola konsep diri
h. Pola koping
i. Pola seksual reproduksi
j. Pola peran hubungan
k. Pola nilai dan kepercayaan

4. PEMERIKSAAN FISIK
Disini berisi hasil pemeriksaan head to toe pada pasien misalnya, TTV,
keadaan umum, kulit, rambut, kuku, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher,
dada dan paru-paru, jantung, abdomen, anus dan rectum, alat kelamin,
muskuloskeletal, dan neurologi.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menunjang/mendukung diagnosa yang ditegakkan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. DATA FOKUS
a. Data Subyektif
• Mengeluh sakit/nyeri skala 0-10
• Bebal / kesemutan
• Mengeluh kehilangan fungsi pada bagian yang fraktur
b. Data Obyektif
• Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian fraktur
• Meringis kesakitan
• Kadang-kadang hipertensi (respon terhadap nyeri)
• Kadang hipotensi
• Takikardi (respon stres, hivopoterta)
• Penurunan atau tidak ada nadi pada bagian distal yang terkena cedera
• Pucat pada bagian cedera
• Bengkak & hematum pada sisi yang cedera
• Krepitasi depormitas lokal
• Laserasi kulit / adanya luka
• Pendarahan

2. ANALISIS DATA
• Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
• Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penonjolan tulang akibat
fraktur terbuka
• Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal
• Resiko infeksi berhubungan dengan trauma pada fraktur terbuka
• Kurang pengetahuan (spesifik) berhubungan dengan keterbatasan informasi

C. TUJUAN (NOC)
Dx. 1
Pain Control (1605)
• (160501) Recognizes causal factors
• (160502) Recognizes pain onset
• (160503) Uses preventive measures
• (160504) Uses non-analgesic relief measures
• (160505) Uses analgesics appropriately
Pain Level (2102)
• (210201) Reported pain
• (210202) Precent of body affected
• (210203) Frequency of pain
• (210204) Length of pain episodes
• (210205) Oral expressions of pain

Dx. 2
Wound Healing: Primary Intention (1102)
• (110201) Skin approximation
• (110202) Resolution of purulent drainage
• (110203) Resolution of serous drainage from wound
• (110204) Resolution of sanguineous drainage from wound
• (110205) Resolution of serosanguineous drainage from wound
Wound Healing: Secondary Intention (1103)
• (110301) Granulation
• (110302) Epithelialization
• (110303) Resolution of purulent drainage
• (110304) Resolution of serous drainage
• (110305) Resolution of sanguineous drainage

Dx. 3
Ambulation: Wheelchair (0201)
• (020101) Transfers to and from wheelchair
• (020102) Propels wheelchair safety
• (010203) Propels wheelchair short distance
• (010204) Propels wheelchair moderate distance
• (010205) Propels wheelchair long distance
Mobility Level (0208)
• (020801) Balance performance
• (020802) Body positioning performance
• (020803) Muscle movement
• (020804) Joint movement
• (020805) Transfer performance

Dx. 4
Risk Control (1902)
• (190201) Acknowledges risk
• (190202) Monitor environmental risk factors
• (190203) Monitor personal behavior risk factors
• (190204) Develops effective risk control strategies
• (190205) Adjusts risk control strategies as needed
Risk Detection (1908)
• (190801) Recognizes sign and symptoms that indicated risk
• (190802) Identifies potential health risks
• (190803) Seeks vaidation of perceived risk
• (190804) Performs self examinations at recomended intervals
• (190805) Participates in screening at recomended intervals

Dx. 5
Knowledge: Illness Care (1824)
• (182401) Diet
• (182402) Disease process
• (182403) Energy conservation
• (182404) Infection control
• (182405) Medication
Knowledge: Infection Control (1807)
• (180701) Description of mode of transmission
• (180702) Description of factors contributing to transmision
• (180703) Description of practices that reduce transmission
• (180704) Description of sign and symptoms
• (180705) Description of screening procedures

D. INTERVENSI (NIC)
Dx. 1
Pain Management (1400)
• Berikan pasien pembebasan nyeri yang optimal dengan meresepkan analgesik
• Menjamin pasien menerima perawatan analgesik yang tepat
• Pikirkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih strategi pembebasan nyeri
• Naikkan istirahat/tidur yang adekuat untuk fasilitas pembebasan nyeri
• Kolaborasi dengan pasien, keluarga,dan kesehatan profesional lainnya untuk
memilih dan tindakan pengukuran pembebasan nyeri non-farmakologi.
Dx. 2
Wound Care (3660)
• Lepaskan balutan yang menempel dan demam
• Catat karakteristik luka
• Catat karakteristik setiap pengeringan/drainase
• Bandingkan dan catat secara tetap perubahan apa saja pada luka
• Ajari pasien dan anggota keluarga prosedur perawatan luka.
Dx. 3
Exercise Therapy: Ambulation (0221)
• Bantu pasien berpindah, jika diperlukan
• Bantu pasien dengan ambulasi awal dan kebutuhannya
• Bantu pasien untuk menggunakan tahanan kaki dalam memfasilitasi berjalan dan
mencegah luka
• Suruh pasien untuk mencermati sendiri proses perpindahan
• Konsultasi terapis fisik tentang rencana ambulasi.
Dx. 4
Infection Control (6540)
• Adakan tindakan pencegahan secara umum
• Pastikan teknik perawatan luka yang diperlukan
• Anjurkan istirahat
• Atur terapi antibiotik, jika perlu
• Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan ketika
mereka melaporkan diberikan perawatan kesehatan.
Dx. 5
Teaching: Prescribed Medication (5616)
• Beritahu pasien kemungkinan pengobatan/reaksi obat, jika perlu
• Suruh pasien dalam pengambilan tindakan yang diperlukan jika efek samping
terjadi
• Suruh pasien dalam tanda dan gejala dosis lebih atau kurang
• Suruh pasien bagaimana mengurangi dan mencegah efek samping secara pasti
• Suruh pasien untuk tujuan dan tindakan tiap-tiap pengobatan.

E. EVALUASI
• Ds menyatakan nyeri berkurang / hilang / terkontrol
• Luka sembuh
• Adanya peningkatan mobilitas fisik
• Tidak ada infeksi pada luka
• Menyatakan pemahaman mobilitas kondisi prognosis & pengobatan

DAFTAR PUSTAKA
• Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 3.
EGC: Jakarta.
• Mansjoer, Arif, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Media
Aesculapius: Jakarta.
• Santosa, Budi, 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 Definisi &
Klasifikasi. Prima Medika.
• Johnson, Marion, 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Mosby-Year Book.
• McCloskey, Joanne C, 1996. Nursing Interventions Classification
(NIC).Mosby-Year Book.
• http://wayanpuja.blinxer.com/?page_id=231
• http://www.ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_fraktur.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar